RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Ratusan warga Dusun Muneng Kerurahan Sidomulyo Kecamatan Ungaran Timur berkumpul di jalan untuk lakukan doa bersama.
Doa bersama dilakukan bertepatan dengan Tahun Baru Islam atau sering disebut suronan. Warga menutup sementara jalan selama satu jam untuk melakulan tradisi kupatan
Terlihat warga membawa sendiri makanan dari rumah. Satu keluarga membawa satu rantang yang cukup untuk dimakan satu keluarga tersebut.
Makanan yang wajib dibawa yakni ketupat, lontong dan tidak lupa kerupuk. Tradisi kupatan ini sudah lama dilaksanakan.
Sebelum doa bersama, ada empat orang warga yang menghadap arah mata angin untuk melakukan adzan. Pemandangan ini cukup unik.
Ditengah modernisasi Kota Ungaran, warga Muneng Kerurahan Sidomulyo Ungaran Timur masih melakukan tradisi suronan.
Ketua RW 2 Muneng Sidomulyo Ungaran Timur Sugiono mengatakan ada tujuh RT yang ikut dalam tradisi kupatan ini.
Tradisi turunan temurun ini merupakan tradisi menyambut tahun baru islam dan meninggalkan tahun lalu sehingga dipilihlah waktu jam 4 sore.
Waktu yang dipercaya berada ditengah-tengah.Doa bersama juga dilakukan untuk mendoakan leluhur. Diketahui leluhur dari Muneng Kerurahan Sidomulyo Kecamatan Ungaran Timur yakni Mbah Painah.
"Di warga sini adanya tradisi ini untuk tolak balak. Karena ini sudah turun temurun dari-dari nenek moyang di wilayah ini. Memang seperti itu ada bedanya kalau dulu itu ada Balangan kupat atau saling melempar ketupat. Sekarang tidak ada,"ungkapnya.
Sugiono juga mengatakan ada kupatnya ini tidak pernah absen. Bahkan jika cuaca tidak mendukung pun misalnya hujan warga tetap melakukan tradisi kupatan ini.
Baca Juga: Didakwa Suap Proyek DJKA dan Pemerasan, Eks Bupati Pati Sudewo Bilang Begini Usai Sidang
Perihal pendamping kupatnya Sugiono mengatakan tidak ada pakemnya. Artinya bebas, sesuai keinginan warganya masing-masing.
"Terpenting ada kupatnya. Sayurnya opor atau mau kupat tahu ya boleh. Memang kebanyakan bawanya opor. Seleranya warga saja,"lanjutnya.
Salah satu warga Dusun Muneng Kerurahan Sidomulyo Kecamatan Ungaran Lia 59, mengaku sejak 1992 dirinya tinggal tradisi ini sudah ada.
Hanya saja memang ada pembedanya. Salah satunya dulu ada tradisi lempar ketupat. Lempar kupatan ini sebagai simbol membuang sial.
Namun melempar ketupat ini dinilai warga tidak etis karena membuang makanan atau menjadikan mubazir.
Seterusnya warga melakukan doa bersama dan makan bersama ketupat opornya masing-masing tanpa melemparnya.
"Saya sudah sejak 1992 disini sudag ada tradisi ini. Sebelum magrib sudah selesai acaranya. Terpenting doa bersamanya,"ungkapnya.
Lia juga mengaku tiap tahun sayur untuk pending ketupatnya berbeda-beda. Tahun ini dipilihnya sayur pepaya.
Lia berharap setelah adanya tradisi kupatan di malam satu suro ini semuanya selalu sehat dan dilancarkan semuanya.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi