Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Warga Wringinputih Bergas Pasang Batu dan Pohon Pisang, Perusahaan Tambang Janji Tambal Sulam Jalan Rusak Pekan Ini

Maria Novena Sinduwara • Jumat, 12 Juni 2026 | 13:24 WIB
Terlihat jalan rusak yang dipasang batu-batu dan pohon pisang tepatnya di Jalan PTP Ngobo Desa Wringinputih Kecamatan Bergas.
Terlihat jalan rusak yang dipasang batu-batu dan pohon pisang tepatnya di Jalan PTP Ngobo Desa Wringinputih Kecamatan Bergas.

 

RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Protes warga Desa Wringinputih, Kecamatan Bergas, terhadap kerusakan Jalan PTP Ngobo membuka fakta bahwa ruas jalan tersebut sebenarnya sudah pernah diperbaiki menggunakan anggaran ratusan juta rupiah. Namun hingga kini masih terdapat ratusan meter jalan rusak yang belum tertangani dan terus dikeluhkan warga.

Kemarahan warga memuncak setelah kerusakan jalan tak kunjung mendapat penanganan menyeluruh. Sebagai bentuk protes, warga menata batu pondasi besar di sepanjang jalan yang rusak. Bahkan setiap sekitar 20 meter dipasangi pohon pisang sebagai simbol kekecewaan terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai dibiarkan berlarut-larut.

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Semarang Danang Eko Wahyuono mengungkapkan bahwa ruas Jalan Karangjati-Ngobo sebenarnya telah mendapatkan perbaikan pada tahun lalu dengan anggaran sekitar Rp600 juta, ditambah dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Mahidara Artha Sangkara.

Baca Juga: Warga Wringinputih Bergas Pasang Batu dan Pohon Pisang di Sepanjang Jalan Rusak, DPRD Sebut Perusahaan Tambang Wajib Bertanggung Jawab

Dana tersebut digunakan untuk menangani sekitar 500 meter ruas jalan yang mengalami kerusakan. Namun hingga kini masih tersisa sekitar 500 hingga 800 meter jalan yang belum tersentuh perbaikan.

Menurut Danang, belum tertanganinya seluruh kerusakan jalan disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah. DPU harus membagi anggaran untuk menangani total 1.227 kilometer jalan kabupaten yang tersebar di berbagai wilayah.

"Kami mohon maaf kepada masyarakat karena kondisi saat ini memang belum bisa sesuai harapan. Dengan anggaran yang terbatas, kami harus menangani seluruh ruas jalan kabupaten. Namun jalan ini tetap menjadi perhatian kami dan tahun ini masuk dalam pemeliharaan rutin," ujarnya.

Danang menjelaskan, karena ruas tersebut telah mendapatkan alokasi anggaran pada tahun sebelumnya, perbaikan lanjutan baru direncanakan masuk pada tahun 2027 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp900 juta.

Baca Juga: Warga Wringinputih Bergas Pasang Batu dan Pohon Pisang di Sepanjang Jalan Rusak, DPRD Sebut Perusahaan Tambang Wajib Bertanggung Jawab

Namun di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, sorotan juga mengarah pada aktivitas kendaraan berat pengangkut material tambang yang setiap hari melintasi jalan tersebut. DPU mengakui tonase kendaraan yang besar turut mempercepat kerusakan jalan sekaligus menimbulkan debu yang mengganggu warga.

Persoalan itu menjadi perhatian saat Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bondan Marutohening bersama Komisi C melakukan inspeksi mendadak ke lokasi. Dalam sidak tersebut, perusahaan tambang PT Mahidara Artha Sangkara akhirnya menyatakan kesediaannya melakukan perbaikan sementara.

Kepala Cabang PT Mahidara Artha Sangkara, Ivan Kayolianto, mengatakan perusahaan akan mulai melakukan perbaikan jalan pada Sabtu pekan ini dengan metode tambal sulam.

Ivan mengakui aktivitas operasional perusahaan memberikan dampak terhadap kondisi jalan dan lingkungan sekitar. Karena itu, perusahaan mengklaim telah beberapa kali menyalurkan program CSR untuk membantu perbaikan infrastruktur.

Salah satu bentuk kontribusi yang disebutkan adalah pembangunan jalan beton di ruas sekitar Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) hingga kawasan Pohon Karet.

Baca Juga: Jengkel Jalan Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Wringinputih Bergas Pasang Batu dan Pohon Pisang di Sepanjang Jalan Rusak

Meski demikian, Ivan menyatakan perusahaan akan kembali mengevaluasi bentuk perbaikan yang dilakukan agar aktivitas pertambangan tetap berjalan tanpa menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

"Mungkin akan kami evaluasi lagi bentuk perbaikannya seperti apa. Yang jelas aktivitas usaha tetap berjalan, tetapi tidak merugikan warga," katanya.

Terkait tuntutan warga agar seluruh truk pengangkut material wajib menggunakan terpal penutup dan dibatasi jam operasionalnya, Ivan menyebut aspirasi tersebut akan disampaikan kepada manajemen perusahaan untuk ditindaklanjuti.

Kini warga menunggu realisasi janji perbaikan yang akan dilakukan perusahaan. Pasalnya, bagi masyarakat Wringinputih, persoalan yang dihadapi bukan hanya jalan berlubang, tetapi juga kekhawatiran kerusakan akan terus berulang selama kendaraan bertonase besar masih melintas setiap hari tanpa pengawasan yang ketat.

Editor : Baskoro Septiadi
#jalan rusak Wringinputih Bergas #PT Mahidara Arta Sangkara #Kabupaten Semarang #ungaran