RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Kerusakan Jalan PTP Ngobo di Desa Wringinputih, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, tidak hanya memicu aksi protes warga. Di balik pemasangan batu pondasi dan pohon pisang sebagai bentuk kekecewaan, tersimpan persoalan yang lebih serius yakni ancaman keselamatan pengguna jalan dan gangguan kesehatan akibat debu yang terus berlangsung hampir dua tahun.
Warga yang tinggal di sepanjang ruas jalan mengaku harus hidup berdampingan dengan jalan berlubang, debu tebal, serta lalu lalang truk bermuatan material tambang setiap hari. Kondisi tersebut dinilai semakin membahayakan, terutama saat musim hujan ketika lubang jalan tertutup genangan air.
Ketua RT 05 RW 01 Desa Wringinputih, Winarto (42), mengatakan kecelakaan lalu lintas kerap terjadi di ruas jalan tersebut. Pengendara sepeda motor menjadi kelompok yang paling rentan karena harus menghindari lubang di tengah padatnya kendaraan yang melintas.
“Kalau hujan justru lebih berbahaya. Lubang tidak terlihat karena tertutup air. Banyak pengendara yang kaget dan kehilangan kendali saat melintas,” ujarnya, Jumat (12/6).
Menurut Winarto, warga beberapa kali menyaksikan pengendara terjatuh akibat kondisi jalan yang rusak. Bahkan, tidak jarang terjadi senggolan antarkendaraan saat pengendara berusaha menghindari lubang atau berpapasan dengan truk bermuatan besar.
Selain persoalan keselamatan, debu yang ditimbulkan kendaraan berat menjadi keluhan utama warga. Saat cuaca panas, debu beterbangan hingga masuk ke rumah-rumah warga yang berada di tepi jalan.
“Setiap hari kami harus membersihkan rumah karena debu. Pagi dibersihkan, siang sudah kotor lagi. Kalau truk lewat terus, debunya sangat terasa,” katanya.
Warga menduga kerusakan jalan dipicu tingginya intensitas kendaraan berat yang mengangkut material tambang. Dalam sehari, lebih dari 100 truk disebut melintas di jalur tersebut. Sebagian kendaraan bahkan diduga tidak menutup muatan dengan terpal sehingga memperparah polusi debu di lingkungan permukiman.
Kondisi tersebut, kata Winarto, telah berlangsung hampir dua tahun. Selama periode itu, warga merasa harus menanggung dampak kerusakan jalan tanpa adanya solusi yang mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
Sebagai bentuk keresahan, warga sebelumnya memasang batu pondasi di sejumlah titik jalan. Langkah tersebut dilakukan untuk memperlambat laju kendaraan sekaligus menjadi simbol protes atas kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki.
Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki ruas Jalan PTP Ngobo. Mereka menginginkan akses jalan yang aman dan nyaman setelah sekian lama menghadapi risiko kecelakaan serta gangguan lingkungan akibat aktivitas kendaraan berat.
“Kami tidak menuntut macam-macam. Kami hanya ingin jalan ini layak digunakan dan tidak membahayakan warga,” pungkasnya. (ria)
Editor : Baskoro Septiadi