Kegiatan yang berlangsung di Aula Cipto Mangunkusumo, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah itu diikuti lebih dari 80 dosen Bahasa dan Sastra Indonesia. Mereka berdialog langsung dengan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen RI, Hafidz Muksin, untuk membahas transformasi bahasa dan sastra di era global.
Dalam paparannya, Hafidz menegaskan bahwa Bahasa Indonesia memiliki peran strategis sebagai bahasa pengantar pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, kemampuan berbahasa Indonesia yang baik harus dimiliki para pendidik, baik guru maupun dosen.
“Dari hasil Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia. Upaya ini harus dimulai dari para dosen dan guru sebagai ujung tombak pendidikan,” ujarnya.
Selain peningkatan kualitas penggunaan bahasa di dalam negeri, pemerintah juga terus mendorong Bahasa Indonesia agar semakin diakui di tingkat internasional. Menurut Hafidz, saat ini Bahasa Indonesia telah menjadi salah satu bahasa resmi dalam sidang umum UNESCO dan juga telah digunakan secara resmi di Vatikan sebagai bahasa ke-57.
“Masuknya Bahasa Indonesia di Vatikan memudahkan umat Katolik Indonesia mengakses berbagai informasi dan arahan dari Paus. Ini juga menjadi sarana diplomasi budaya dan bahasa yang sangat baik bagi Indonesia,” jelasnya.
Baca Juga: Pertalite Rp10.000 dan Biosolar Rp6.800 Tetap Berlaku, Pertamax dan Pertamax Green Berubah
Ia menambahkan, upaya internasionalisasi Bahasa Indonesia terus dilakukan melalui kolaborasi dengan kedutaan besar Republik Indonesia serta berbagai perguruan tinggi luar negeri. Saat ini tercatat sudah ada program pembelajaran Bahasa Indonesia di 61 negara.
Sementara itu, Dewan Pertimbangan ADOBSI, Prof. Sarwiji Suwandi, mengatakan meski organisasi tersebut masih tergolong muda, ADOBSI telah memiliki 27 komisariat daerah (Komda) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, ADOBSI secara rutin menyelenggarakan diskusi akademik, seminar, hingga program kerja sama internasional. Salah satunya adalah pelatihan bahasa Mandarin yang menjadi implementasi kerja sama dengan mitra pendidikan dari Tiongkok.
“Konferensi Internasional ini merupakan agenda dua tahunan ADOBSI. Tahun ini kami menghadirkan dosen dan akademisi dari Vietnam, Australia, dan Amerika Serikat. Peserta juga berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik secara luring maupun daring,” terangnya.
Melalui konferensi tersebut, ADOBSI berharap dapat memperkuat peran Bahasa Indonesia dalam dunia pendidikan, penelitian, dan diplomasi internasional, sekaligus menjawab tantangan transformasi bahasa dan sastra di era globalisasi. (ria)