Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Harga Ayam Hidup Anjlok hingga Rp11 Ribu per Kg, Peternak Kelebihan Pasokan

Maria Novena Sinduwara • Selasa, 9 Juni 2026 | 21:56 WIB
Asosiasi PINSAR Indonesia saat lakukan pertemuan usai harga ayam anjlok di Ball Room Hotel Wujil Bergas Kabupaten Semarang.
Asosiasi PINSAR Indonesia saat lakukan pertemuan usai harga ayam anjlok di Ball Room Hotel Wujil Bergas Kabupaten Semarang.

 

RADARSEMARANG.ID, Ungaran Harga ayam pedaging hidup (live bird) di berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah, mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp11.000 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat banyak peternak rakyat menghadapi tekanan berat karena harga jual berada jauh di bawah biaya produksi yang mencapai sekitar Rp20.000 hingga Rp20.500 per kilogram.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan peternak mandiri yang harus menanggung kerugian dalam setiap periode panen. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat di berbagai daerah.

Baca Juga: Polda Jateng Bentuk Tim Reaksi Cepat di Enam Wilayah, Fokus Tekan Kejahatan Jalanan dan 3C

Sekretaris Jenderal PINSAR Indonesia, Mukris Wahyudi, menilai anjloknya harga ayam hidup tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, tetapi juga merata di berbagai wilayah Indonesia. Menurutnya, persoalan utama berasal dari ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

"Harga saat ini berada jauh di bawah biaya produksi peternak sehingga sangat sulit bagi peternak rakyat untuk bertahan," ujarnya usai pertemuan Asosiasi PINSAR Indonesia di Kabupaten Semarang, Selasa (9/6).

Produksi Lebih Tinggi dari Kebutuhan Pasar

Data yang dipaparkan PINSAR menunjukkan produksi ayam nasional pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 4,3 miliar ekor. Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat diproyeksikan setara sekitar 3,6 miliar ekor.

Bahkan setelah ditambah kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), total serapan pasar diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,1 miliar ekor.

Artinya, masih terdapat potensi kelebihan pasokan sekitar 300 juta ekor ayam yang masuk ke pasar.

Kelebihan produksi tersebut membuat persaingan penjualan semakin ketat dan mendorong harga ayam hidup terus mengalami tekanan.

Dalam kondisi pasar yang kelebihan pasokan, peternak menjadi pihak yang paling terdampak karena harus menjual hasil panen dengan harga yang tidak mampu menutupi biaya produksi.

Baca Juga: Dana Operasional RT Rp25 Juta Segera Cair, Pemkot Semarang Sederhanakan Aturan dan Pelaporan

Harga Konsumen Tinggi, Peternak Tetap Merugi

Ironisnya, penurunan harga di tingkat peternak tidak sepenuhnya tercermin di tingkat konsumen.

Saat harga ayam hidup berada di kisaran Rp11.000 per kilogram, harga ayam potong di pasar masih berkisar antara Rp33.000 hingga Rp35.000 per kilogram.

Perbedaan harga yang cukup lebar tersebut menunjukkan adanya tantangan dalam rantai distribusi dan tata niaga perunggasan yang selama ini menjadi perhatian peternak.

Menurut Mukris, kondisi tersebut membuat peternak rakyat kesulitan memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan konsumsi ayam di masyarakat.

Program MBG Belum Banyak Dirasakan Peternak Mandiri

Program Makan Bergizi Gratis yang semula diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menyerap kelebihan produksi ayam nasional juga dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi peternak rakyat.

PINSAR menilai rantai pasok program tersebut saat ini lebih banyak melibatkan pelaku usaha berskala besar yang memiliki fasilitas rumah potong unggas dan kapasitas distribusi yang lebih kuat.

Akibatnya, banyak peternak mandiri belum dapat masuk secara optimal ke dalam ekosistem pasokan program tersebut.

"Mereka memiliki kapasitas stok dan jaringan distribusi yang besar sehingga lebih kompetitif dalam memasok kebutuhan program," kata Mukris.

Baca Juga: Ekonom Undip Minta Koperasi Desa Merah Putih Dievaluasi, Nilai Risiko Kegagalan dan Konflik Desa Perlu Diantisipasi

Regulasi Dinilai Perlu Ditegakkan Lebih Konsisten

Menurut PINSAR, pemerintah sebenarnya telah memiliki sejumlah regulasi yang mengatur tata kelola sektor perunggasan, termasuk pengendalian produksi dan perizinan usaha.

Namun pelaku usaha menilai implementasi dan pengawasan di lapangan masih perlu diperkuat agar tujuan menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar dapat tercapai.

Mukris berpendapat bahwa persoalan anjloknya harga ayam hidup merupakan masalah yang berulang hampir setiap tahun dan membutuhkan langkah penataan yang lebih konsisten.

"Jika seluruh pelaku usaha mematuhi aturan dan pengawasan berjalan efektif, persoalan kelebihan pasokan yang terus berulang bisa diminimalkan," ujarnya.

Peternak Berharap Solusi Jangka Panjang

Bagi peternak rakyat, persoalan harga ayam hidup bukan hanya menyangkut keuntungan usaha, tetapi juga keberlangsungan produksi nasional dalam jangka panjang.

Apabila harga terus berada di bawah biaya produksi, banyak peternak berisiko mengurangi populasi ternak atau bahkan menghentikan usahanya. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas pasokan pangan nasional.

Karena itu, pelaku usaha berharap pemerintah tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat pengelolaan pasar, memperluas penyerapan hasil ternak rakyat, serta menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan konsumsi masyarakat.

Editor : Baskoro Septiadi
#harga ayam hidup anjlok #Kabupaten Semarang #ungaran