RADARSEMARANG.ID, Ungaran - BUMDes Menara Desa Karangduren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang terus kembangkan usaha guna tingkatkan ketahanan pangan berbasis hidroponik.
Budidaya selada premium di greenhouse desa dipilih dan dijalankan sejak tahun 2025. Pengelolaan usaha yang didukung dana desa dan pemasaran hingga luar daerah itu kini mampu menyumbang sekitar 60 persen Pendapatan Asli Desa (PADes).
Kepala Desa Karangduren, Muhamad Noor Majid mengungkapkan BUMDes menjadi salah satu pilar pembangunan dalam konsep “Bersatu dalam Harmoni, Maju dalam Pembangunan” yang pertumbuhannya terus di dorong oleh Pemerintah Desa.
Baca Juga: Rob di Kecamatan Tugu Semarang Kian Parah, Ancam Sawah Produktif
Sejak berdiri sejak tahun 2018 Bumdes menara dinilai terus berkembang sampai dengan saat ini. Bahkan sudah ada beberapa bidang usaha didalamnya.
Di tahun 2025 bidang usaha BUMDes memanfaatkan program ketahanan pangan dari 20 persen Dana Desa untuk mengembangkan bidang usaha sistem green house yang didalamnya fokus pada budidaya selada varietas premium dengan menggunakan sistem pertanian hidroponik dan aquaponik.
"Fokus utama di BUMDes Lungo Tani ini adalah budidaya selada varietas premium, ditambah dengan berbagai jenis tanaman sayuran lainnya dan budidaya ikan nila yang kami kelola di sebuah green house yang berdiri di lahan milik desa. Dari pengelolaan yang maksimal dari BUMDes Karangduren diseluruh bidang usaha ini, setidaknya mampu menyumbang 60 persen untuk Pendapatan Asli Desa. Dan nilai ini berharga sekali buat kami, di kondisi krisis fiskal yang terjadi,"jelasnya. Kamis (14/5).
Penananam selada dilakukan dalam Green house seluas 300-an meter persegi termasuk didalamnya ada ternak ikan. Dengan hasil tersebut menjadikan Desa Karangduren sebagai desa tertinggi untuk pendapatan PADes yang bersumber dari BUMDes di Kecamatan Tengaran.
Pengurus Menara, Eko Prasetyo dan Rahmad Arif mengakui meski usaha yang bergerak di budidaya selada hidroponik ini baru berjalan sejak tahun 2025, namun kini mulai dirasakan hasilnya setelah berhasil panen selada hidroponik.
Lebih rinci ia mengatakan dari testimoni pembeli selada milik Karangduren ini memiliki ukuran besar dari selada pada umumnya atau jenis lokal.
Sedangkan daunnya lebar, bobotnya juga lebih berat ketimbang selada lokal, serta memiliki cita rasa yang manis menyegarkan.
Dengan budidaya selada hidroponik premium ini, Eko mengaku jika kini mulai membludak untuk pesanan. Salah satunya pihaknya harus mensuplay ke jawa timur.
Baca Juga: Banser Diharapkan Jadi “Pendingin” Jateng dari Hoaks dan Intoleransi
"Untuk produksi satu bulan bisa mencapai 400 sampai dengan 500 kilogram, padahal permintaan per minggunya bisa 100 sampai 200 kilogram, kami belum bisa maksimal dalam memenuhi permintaan pasar akan selada hidroponik ini,"katanya.
Saat ini permintaan selada premium Karangduren tidak hanya datang dari masyarakat sekitar Tengaran, namun datang dari berbagai wilayah di luar Kabupaten Semarang.
Diantaranya konsumen dari Jember, Jawa Timur yang menjadi salah satu wilayah langganan tetap Selada Karangduren. Bahkan harga selada di Jember terbilang cukup mahal, yaitu di kisaran Rp 55 sampai Rp 60 ribu untuk per kilonya.
Sementara jika dijual di Karangduren, per kilogramnya hanya dipatok di harga Rp 25 ribu dengan isi lima sampai enam bonggol selada.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi