RADARSEMARANG.ID, Semarang - Rawapening, Tuntang terdapat Ikan Setan merah (Amphilophus labiatus) atau Red devil, yang merupakan ikan siklid yang asli dari negara Nikaragua dan Costarika di Amerika Tengah.
Ikan ini menjadi ikan invasif, yaitu jenis ikan non-asli (asing) yang didatangkan ke habitat baru, baik sengaja maupun tidak, lalu berkembang biak tanpa kontrol alami.
Ikan ini masuk ke Indonesia melalui Malaysia dan Singapura pada 1980–1990 sebagai ikan hias akuarium yang dilepas-liarkan ke alam liar dan menjadi ikan invasif, terutama di danau dan rawa di Pulau Jawa, Sulawesi dan Papua.
Sebenarnya sudah terdapat peraturan tentang ikan ini berdasarkan Pasal 88 UU No. 31/2004 jo. UU No. 45/2009 dan Permen KP No. 19/2020 yang melarang memasukkan, mengedarkan, memelihara, melepas ikan berbahaya.
Apabila dilakukan, dapat dipidana dengan penjara maksimum 6 tahun atau denda maksimal Rp1,5 miliar. Ikan ini bersifat agresif, dengan gigi setajam silet dan rahang yang kuat sehingga dapat merusak jaring nelayan atau jaring karamba budidaya ikan serta memangsa ikan lain yang bernilai ekonomis, seperti ikan nila, gurami dan bawal.
Warna ikan ini bervariasi dari abu-abu hingga hijau keabu-abuan, merah muda, merah atau putih, kadang dengan bintik atau pita pigmentasi hitam.
Walaupun merugikan di perairan alami, ikan Red Devil ini kaya akan nutrisi, protein tinggi (hingga 35%), asam amino, lemak/asam lemak yang baik (DHA & Omega-3) sehingga menjadi sumber gizi baik untuk konsumsi, dan dapat diolah menjadi makanan seperti kerupuk, abon, atau fillet, presto, dimsum dan lain-lain.
Selain itu, bisa digunakan sebagai pakan ikan/hewan yang lain. Kulit ikan red devil bisa digunakan sebagai bahan baku gelatin dan hidrolisat protein (enzim papain).
Dengan cara difermentasi selama 7 hari dengan EM4, iksn red devil bisa dimanfaatkan sebagai pupuk duren dan tanaman keras lainnya.
Untuk lebih meningkatkan gizi masyarakat dengan penyediaan sumber protein dari ikan Red Devil di Desa Kesongo, Tim Pengabdian Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro dengan Ketua Dr. Ervia Yudiati melakukan sosialisasi pemanfaatan ikan Red Devil untuk bahan baku dimsum.
"Kita sosialisasikan ke masyarakat khususnya warga desa Kesongo, terkait manfaat dan sumber protein ikan ini yang dapat dimanfaatkan masyarakat setempat"ungkap Ervia Yudiati.
Pengenalan seluk-beluk ikan Red Devil yang dilakukan oleh Dr. Retno Hartati dan praktik membuat dimsum yang dipandu oleh Dr. Widianingsih, Dr. Ita Riniatsih dan Ibu Wulansari Rahmawati.
"Kita berikan pratik ke masyarakat cara mengolah ikan red devils ini menjadi olahan makanan dimsum yang lezat dan bergizi"imbuh anggota Tim, Retno Hartati.
"Kami warga desa Kesongo khususnya ibu-ibu PKK sangat terbantu dengan sosialisasi pemanfaatan ikan red devils oleh Tim FPIK Undip, ke depan kami sangat berharap ada inovasi lainnya untuk menunjang gizi dan ekonomi kreatif di desa kami" tutur Lilis Maesaroh, Ketua Penggerak PKK Desa Kesongo.
Tak hanya warga yang terbantu dengan kegiatan Tim FPIK Undip, penyuluh perikanan dan pertanian, Aryza Titisari juga mengaku sangat terbantu dengan kegiatan Tim Pengabdian Masyarakat FPIK Undip tersebut.
"Terima kasih kami ucapkan, karena kegiatan sosialisasi dari FPIK Undip ini membantu tugas keseharian saya sebagai PPL. Semoga kegiatan ini bisa terus berlanjut ke depannya, karena sangat membantu kami"cetus Aryza Titisari, petugas Penyuluh Pertanian dan Perikanan di Dinas Kabupaten Semarang. (sls)
Editor : Sulistiono