RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Perbaikan Jalan Gatot Subroto, Ungaran, Kabupaten Semarang mulai menunjukkan progres. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, sebagian badan jalan di depan BRI Ungaran sudah dibongkar dan diganti beton. Arus lalu lintas pun tersendat. Kendaraan besar seperti truk harus bergantian melintas karena penyempitan jalan.
Kondisi tersebut memicu antrean panjang, terutama saat jam sibuk. Di perempatan Alun-alun Ungaran, rambu-rambu peringatan juga telah dipasang. Pengendara diimbau mencari jalur alternatif untuk menghindari kepadatan lalu lintas.
Perbaikan ini menjadi bagian dari program preservasi jalan nasional ruas Semarang - Salatiga - Sruwen sepanjang 57 kilometer dengan total anggaran Rp 181 miliar. Proyek tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 2025 hingga 2027.
Di titik depan BRI Ungaran, penanganan dilakukan dengan betonisasi (rigid) sepanjang sekitar 180 meter. Langkah ini diambil karena kondisi jalan dinilai tidak lagi kuat menahan beban lalu lintas. Perbaikan jalan ini berlangsung pada 15 April - 5 Mei 2026 mendatang.
Baca Juga: Sempat Viral di Medsos, Satpol PP Salatiga Turun Tangan Tertibkan Trotoar dan Reklame
Salah satu pengguna jalan Ririn, warga Kabupaten Semarang yang bekerja di Kota Semarang ini mengaku setiap pagi harus bergelut dengan dua titik kemacetan. Yakni di Ungaran dan Jalan Gombel.
"Kalau berangkat kerja ya mau nggak mau kena macet. Gatot Subroto macet, Gombel juga macet. Tapi ya harus sabar," akunya.
Ia pun terpaksa berangkat lebih pagi. Sebab mau muter lewat Gunungpati jalannya terlalu jauh.
"Berangkatnya lebih pagi, mau muter lewat Gunungpati juga kejauhan," bebernya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Provinsi Jawa Tengah dari Balai Besar Penanganan Jalan Nasional Jateng - DIY, Alfan Noor Rizal, menjelaskan alasan betonisasi. Bukan tanpa sebab. Lokasi depan BRI itu tepat di dekat traffic light. Kendaraan berat sering berhenti dan mengerem.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Provinsi Jawa Tengah dari Balai Besar Penanganan Jalan Nasional Jateng-DIY, Alfan Noor Rizal, menjelaskan penanganan dilakukan sekaligus dengan pembenahan drainase.
"Jadi saluran di situ (Gatot Subroto) kita perbesar, dan nanti jalan di situ kita rigid (beton), sepanjang depan BRI itu saja. Karena di lampu merah sudah rigid nanti kita sedikit tambahkan sekitar 180 meter,” ujarnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Senin (27/4).
Menurutnya, lokasi tersebut merupakan titik rawan kerusakan jalan. Sebab kendaraan kerap berhenti dan mengerem sebelum trafic light.
"Nanti kita rigit di situ (Jalan Gatot Subroto) karena memang di situ posisi deket trafic light jadi beban berhenti, beban rem. Tetapi kendaraan itu sudah semakin banyak. Jadi ngeremnya sudah mulai dari depan BRI itu. Jadi aspalnya pasti sudah kalah (jalannya jadi sering rusak). Akhirnya kita perpanjang rigitnya. Pelapisan aspalnya tetap ada, cuma khusus 180 meter itu kita rigit (ganti beton),” jelasnya.
Selain betonisasi, program preservasi juga mencakup penambalan jalan berlubang dan pelapisan ulang aspal di sepanjang ruas Semarang - Salatiga - Sruwen. Pihaknya menambahkan, pola penanganan serupa juga akan diterapkan di titik lain, seperti perempatan Kecandran, Salatiga.
"Saya infokan di perempatan Kecandran (Salatiga) itu sebenarnya sama kayak BRI (di Jalan Gatot Subroto). Jadi itu nanti kita ada rigid juga di situ, ada betonisasi di perempatan situ (Jalan Lingkar Salatiga),” pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi