RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Tradisi lebaran juga dilakukan warga Desa Boto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Membuat jenang. Jenang bagi masyarakat Desa Boto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang sendiri salah satu entitas yang selalu disiapkan pada setiap hari raya Idul Fitri.
Suguhan tradisional Jawa yang diolah dari bahan dasar tepung ketan, santan dan gula merah (gula jawa) ini, menjadi bagian yang tidak bisa mereka tinggalkan saat hari lebaran.
Warga Boto menilai jenang bukan sekedar simbol ungkapan syukur. Secara filosofi juga menjadi bagian dari silaturahmi warga.
Karena proses pembuatannya yang cukup panjang dan memakan waktu lama.
Dari mulai bahan cair yang harus terus diaduk hingga menjadi kenyal dengan rasa manis yang khas.
"Butuh gotong-royong, kesabaran dan kebersamaan antar warga. Sehingga, jenang juga menjadi warna lokalitas warga di Desa Boto ini," ungkap Sjaichul Hadi, salah satu tokoh warga Desa Boto. Minggu (22/3)
Menurutnya, jenang juga menjadi simbol penyatuan hati, yang direpresentasikan dari bahan dasarnya.
Proses pembuatan jenang dimulai dari kelapa yang diolah menjadi santan hingga keluar minyaknya.
Lalu semua bahan dicampur dan dijadikan satu dengan santan sambil dimasak diatas tungku kayu sambil terus diaduk tanpa boleh berhenti.
Dirinya mengaku, menyiapkan jenang saat Lebaran sudah dilakukan secara turun-temurun bagi warga di desanya.
Dalam proses pembuatannya pun warga saling bergotong-royong. Karena dibuat bersama, maka jenang yang sudah jadi tidak dinikmati sendiri oleh yang membuat.
Tetapi hasilnya juga dibagikan kepada sanak saudara dan tetangga.
"Bagi kami masyarakat Jawa, ini juga memiliki harapan agar setiap persaudaraan antar keluarga, antar warga di Desa Boto senantiasa bisa semakin rekat dan saling empati,"pungkasnya.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi