RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Setidaknya 20 siswa SD Negeri 01 Ungaran diduga keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Dua diantaranya dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans Puskesmas Ungaran.
Kepala SD Negeri 01 Ungaran Irmayani mengatakan siswanya mengalami mual-mual hingga sesak nafas usai menyantap MBG hari ini Selasa (30/9).
Siswa yang mengalami gejala langsung dibawa ke UKS. Irma mengatakan menu hari ini ada rendang daging dicampur tahu, pakcoy, timun, tahu yang dibentuk bola hingga puding.
"Ada 20an siswa yang mengalami indikasi keracunan. Setelah makan MBG mereka mengalami pusing, mual hingga sesak nafas. Total siswa kita ada 589," ungkapnya saat ditemui di sekolah.
Irma juga mengatakan setelah sampai pukul 9 pagi ke sekolah MBG langsung dibagikan setelah kejadian langsung lapor puskesmas.
MBG di Sekolah tersebut sudah berjalan satu bulan di SPPG Sidomulyo Ungaran Timur.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang Joko Sriyono saat membuka salah satu MBG yang ada disekolah mengatakan diperkirakan dari puding yang ada.
Saat dirinya membuka MBG dirinya menduga puding menjadi salah satu penyebabnya. Pasalnya puding harus berada di suhu minimal 5 derajat.
Tapi ketika disajikan tentu sudah keungkep lama. Ia juga menyarankan dapur bisa mengurangi porsi yang menyajikan setiap hari.
Ia menilai idealnya 1.500 porsi. Jika 3.000 porsi dikerjakan harus pukul 2 pagi.
"Kalau makanan ini harus disuhu lebih dari 60 derajat. Tapi kalau puding harus dibawah lima derajat. Sehingga makanan tidak basi,"timpalnya.
Apalagi diketahui mereka masak pagi dan dimakan siang hari. Sehingga bisa jadi bakteri tumbuh berkembang didalam makanannya.
Joko menekankan daya tahan tubuh siswa tidak sama sehingga reaksi indikasi keracunan pun tidak sama. Ia juga menekankan untuk bisa mengevaluasi dapur yang ada di Kabupaten Semarang.
"Tentu harus ada evaluasi dari dapur. Didapur harus ada tenaga ahli gizi, ahli masak atau chef dan ahli teknologi pangan. Ada yang ngawasi. Kalau tidak ada evaluasi ya begini terus tinggal nunggu bom waktu mana keracunan,"tegasnya. (ria)
Editor : Baskoro Septiadi