RADARSEMARANG.ID, Ungaran — Syekh Hasan Munadi lahir di Demak kira-kira pada tahun 1460, dengan nama kecil Raden Bambang Kartonadi.
Syekh Hasan Munadi merupakan keturunan kerajaan, yaitu dari Raden Suruh (Raja Majalengka) bin Raden Munding Wangi (Raja Pajajaran) bin Raden Munding Sari (Raja Pajajaran) bin Raden Lalean (Raja Pajajaran) bin Raden Ronggo (Raja Jenggolo).
Baca Juga: Jadwal Haul, Biografi, Manaqib Habib Hasan bin Thoha bin Yahya Syekh Kramat Jati Semarang
Syekh Hasan Munadi dengan Raden Fatah Demak merupakan saudara satu Ayah lain Ibu, Syekh Hasan Munadi menjadi kakak sedangkan Raden Fatah sebagai adiknya, Ibu dari Syekh Hasan Munadi adalah Putri Cempa dari Lasem.
Ada yang mengatakan Syekh Hasan Munadi masih keturunan Prabu Browijoyo ke-5 dan masih keturunan Sunan Ampel Surabaya serta masih keturunan Sunan Kalijaga dari istri sepuh (garwo pengrembe) (Trah Keluarga Besar Nyatnyono : 6).
Adapun Hasan Munadi itu adalah julukan yang diberikan oleh Sunan Ampel ketika beliau berkunjung ke Demak dan mendengar suara adzan yang begitu merdu serta bagus.
Baca Juga: Barokah Melihat Wajah Orang Alim, Malaikat akan Memintakan Ampun hingga Hari Kiamat.
Sebagaimana diketahui, Mbah Hasan Munadi juga dikenal sebagai muazzin di Masjid Demak.
Aktivitas sore hari ada di Demak, ketika masuk waktu shalat isya sudah di Nyatnyono lagi.
Itu konon menjadi asal mula nama Desa Nyatnyono, yang artinya menyat wis ana begitu cepatnya waktu perjalanan beliau dari dan akan menuju Demak dari Ungaran atau sebaliknya.
“Sunan Ampel ketika itu penasaran dan bertanya, siapa yang azan. Ada sahabat yang menjawab, itu Bambang Kartonadi. Lalu ditimpali Sunan Ampel, oh Hasan Munadi. Hasan itu artinya bagus, Munadi itu artinya tukang memanggil atau tukang azan,” beber KH Zainal Muttaqin, yang saat ini juga menjabat sebagai Sekretaris MUI Kabupaten Semarang tersebut.
Demikian halnya dengan anaknya Mbah Hasan Munadi, yakni Mbah Hasan Dipuro.
Aslinya bernama Soto Puro.
Baca Juga: Mengenal Sosok Profil Ustad Dr (HC) Adi Hidayat, Lc, MA
Suatu ketika yang bersangkutan dibawa ke Demak oleh ayahnya dan dipanggil Sunan Ampel.
“Karena sifatnya cekatan, suaranya keras dan berani maka oleh Sunan Ampel diberi nama Soto Puro. Berasal dari Soutun yang artinya suara, Fourun yang artinya banter ,” ujarnya.
Semasa hidupnya Syekh Hasan Munadi pernah menjabat sebagai tumenggung di Kerajaan Demak.
Baca Juga: Sosok Profil Gus Miftah dan Tugasnya Sebagai Utusan Khusus Presiden RI
Syekh Hasan Munadi memimpin tentara Kerajaan Demak dalam melawan segala kejahatan dan keangkuhan yang ingin menggoyahkan kerajaan.
Syekh Hasan Munadi merupakan figur pemimpin yang pemberani, bijaksana, berwibawa dan kuat.
Namun Syekh Hasan Munadi tidak selamanya menetap di kerajaan, bahkan pangkat yang sandang oleh Syekh Hasan Munadi ditinggalkannya.
Kesemuanya mengingat di luar kerajaan masih banyak sekali yang harus diperjuangkan termasuk di daerah sebelah selatan Demak (Trah Keluarga Besar Nyatnyono, TT : 7).
Dimana rakyatnya masih banyak yang hidup dalam kegelapan iman.
Mereka belum mendapat petunjuk yang benar yang diridhoi oleh Allah SWT.
Baca Juga: Mengenal Sosok Profil Habib Zaidan bin Haidar bin Yahya Pemimpin Majelis Sekar Langit
Mereka masih kebingungan dalam memilih cara yang baik untuk beribadah kepada Maha pencipta.
Mereka masih banyak yang menyembah batu, pohon, hantu, syaitan dan lian-lain.
Pada saat itulah Syekh Hasan Munadi bertekad menyampaikan ajaran-ajaran yang haq yang menuju keridho’an Allah.
Baca Juga: Sosok Profil Ustadz Prof KH Abdul Somad Batubara atau UAS yang Akan Hadir di Semarang Besok
Dengan sifat Syekh Hasan Munadi yang arif, bijaksana, berbudi luhur, penuh kasih sayang dan tidak membeda-bedakan kasta.
Di dalam perjalanannya Syekh Hasan Munadi berusaha mendekati dan mengajak rakyat kecil untuk beriman dan beribadah kepada Allah.
Dianlara pengikutnya yang setia dan menjadi santrinya yaitu Kyai Gede Cendono.
Kyai Gede Cendono merupakan murid Syekh Hasan Munadi yang masih keturunan dari kerajaan Majapahit.
Setelah merasa suda banyak menanamkan bibit-bibit mubaligh, kemudaian Syekh Hasan Munadi melanjutkan perjalanannya menuju Gunung Surala untuk berkhalwat (bertapa istilah Jawa) untuk memohon kepada Allah agar dalam perjuangannya bisa sukses, mengingat yang akan dihadapi oleh Syekh Hasan Munadi merupakan tokoh-tokoh sangat sakti dan kuat diantaranya yaitu: Ki Ajar Bontit, Raden Potro Kusumo (Adipati Tuban), Ki Angga Wangsa dan Ratu Kedu.
Setelah kira-kira seratus hari beliau berkhalwat ketika Beliau akan meninggalkan tempatnya terdapat sebuah gambaran masjid (ada yang mengatakan kayu yang berlubang calon bedug).
Kemudian dari peristiwa itu Beliau berkata dalam Bahasa Jawa: “lagi menyat wis ana”, artinya baru bangun sudah ada, yang kemudian menjadi nama Nyatnyono.
Baca Juga: Sosok Profil Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, dari Imam Masjid menjadi Menteri Agama Indonesia
Maka Syekh Hasan Munadi menetap di tempat tersebut dan membangun masjid.
Pada saat ingin memulai membangun masjid, Syekh Hasan Munadi didatangi oleh Sunan Kalijaga, karena pada saat itu di Demak juga akan dibangun sebuah masjid.
Kedatangan Sunan Kalijaga tersebut bermaksud untuk meminta bantuan Syekh Hasan Munadi.
Permintaan Sunan Kalijaga dijawab dengan berkata: “Kanjeng Sunan di sini juga sudah terdapat lakaran atau gambaran masjid yang harus segara dibangun (Masjid Subulussalam Nyatnyono), untuk itu sebelum saya datang ke Demak, saya mohon kepada semua Wali untuk mendirikan masjid di sini terlebih dahulu dan saya minta tiangnya satu.
Permintaan Syekh Hasan Munadi dikabulkan oleh Sunan Kalijaga dan diantarkannya satu tiang calon Masjid Demak oleh Sunan Kalijaga ke Nyatnyono.
Hingga saat ini Masjid Subussalam masih ada dan sering disebut sebagai Masjid Karomah Hasan Munad.
Syekh Hasan Munadi mempunyai dua istri:
a. Putri Kyai Ageng Mikukuhan kedua Magelang (Raden Abdulloh Taqwim).
b. Putri dari pembesar Ponogoro (Trah Keluarga Besar Nyatnyono, TT :12).
Dari kedua istri tersebut yang mendapatkan keturunan adalah dari istri yang pertama.
Baca Juga: Mengenal Sosok Profil KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq
Diantara keturunan Syekh Hasan Munadi adalah Syeikh Hasan Dipuro sedangkan dari istri kedua tidak mendapatkan keturunan.
Syekh Hasan Munadi usianya hingga lanjut ± 130 tahun dan dengan dikaruniai usia demikian panjang, Syekh Hasan Munadi juga mengembangkan dan menyebarluaskan Agama Islam di daerah Ponogoro.
Sampailah pada akhirnya Syekh Hasan Munadi menghadap Yang Maha Kuasa di rumah istri keduanya dan di makamkan di sana.
Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini Sosok Profil Gus Iqdam
Tapi pada tanggal 21 Ramadan makam Syekh Hasan Munadi dipindahkan ke Nyatnyono oleh anak beliau, yaitu Syekh Hasan Dipuro.
Dalam pemindahan tersebut tidak hanya jasadnya saja yang dipindahkan tetapi disertai dengan tanahnya juga, sehingga makam yang ada di Nyatnyono sekarang merupakan makam asli dari Syekh Hasan Munadi yang ada di Ponorogo.
Oleh karena itu sampai sekarang tanggal 21 Ramadan dijadikan sebagai tanggal haul Syekh Hasan Munadi (Trah Keluarga Besar Nyatnyono, TT : 13).
Haul Syekh Hasan Munadi Nyatnyono
Sebelum kegiatan haul berlangsung pihak pengelola melakukan persiapan dengan mengumpulkan pihak-pihak terkait antara lain perangkatdesa, para tokoh sesepuh desa, trah atau keturuan Syekh Hasan Munadi dan masyarakat.
Kemudian mereka melakukan kegiatan kerja bakti dengan membersihkan jalan, area makam, masjid, membersihkan sendang, membuat area parkir dan membuat tempat khusus bagi para pedagang seperti bazar.
Kegiatan tradisi haul Syekh Hasan Munadi atau sering disebut dengan malam selikuran diadakan setiap satu tahun sekali, bertempat di area makam Syekh Hasan Munadi dan Syekh Hasan Dipuro desa Nyatnyono Ungaran Kabupaten Semarang.
Baca Juga: Sejarah Berdirinya Majelis Ta’lim dan Sholawat Az Zahir
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari tepatnya pada malam dua puluh dan malam dua puluh satu di bulan Ramadan.
Kegiatan dimulai pada malam dua puluh yang diisi dengan pengajian dari jam 19.30-selesai dengan penceramah Habib Umar Muthohar dari Semarang.
Kemudian di hari kedua atau acara puncaknya pada malam dua puluh satu atau selikuran kegiatan dimulai dengan para peziarah bersuci dahulu di sendang Khalimah Thoyibah, kemudian sebagian warga yang mebawa makanan dibawa ke masjid lalu dipanjatkan doa yang dipimpin oleh modin dan dibagi-bagikan kepada peziarah untuk berbuka puasa bersama.
Baca Juga: Sejarah Berdirinya Majelis Dzikir dan Sholawat Gandrung Nabi
Kegiatan dilanjut dengan salat maghrib dan tarawih berjamaah, dan ditutup dengan tahlilan di makam Syekh Hasan Munadi dan Syekh Hasan Dipuro dengan tujuan untuk mendoakan dan meminta ampunan dosa kepada Allah SWT, serta untuk mencari barokah dan ketentraman hidup.
Adapun urut-urutan pelaksanaan tradisi haul Syekh Hasan Munadi adalah sebagai berikut:
1. Bersuci atau mandi di sendang Khalimah Thoyibah Bersuci atau mandi di sendang Khalimah Thoyibah adalah hal yang dilakukan oleh para peziarah sebelum berziarah atau tahlilan di makam Syekh Hasan Munadi dan Syekh Hasan Dipuro.
Adapun doa atau syarat sebelum mandi adalah sebagai berikut:
a. Assalamu'alaika ya nabiyullah khidir balyan bin malkan 'alaihis salam
b. La ila ha illallah (3x)
c. Asyhadu Alaa ilaaha illalllah waasyhadu anna muhammadar rasulullah
Baca Juga: Diawali dari semangat Al Habib Masyhur, Ini Sejarah Singkat Berdirinya Majelis Al Muqorrobin
d. Ila hadhoroti waliyullah Hasan Munadi wa waliyullah Hasan Dipuro (Al-fatihah)
e. Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad (3x)
2. Pembagian makanan kepada para peziarah
Sebagian warga membawa makanan yang diletakkan pada ancak (anyaman dari bamboo yang berbentuk datar) yang terdiri dari nasi sayur,,ayam, tahu, tempe,telur.
Baca Juga: Profil K.H. Taj Yasin Maimoen, dari Santri untuk Negeri, Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah 2024-2029
Ada juga sebagian warga yang membawa nasi bungkus.
Dalam pelaksanaanya makanan dibawa ke masjid kemudian dipanjatkan doa oleh modin, lalu dibagikan kepada para peziarah untuk berbuka puasa bersama.
Pelaksanaan ini sering disebut sebagai tradisi ambengan atau bagi-bagi makanan.
3. Melakukan sholat maghrib dan tarawih berjamaah
4. Tahlilan di makam Syekh Hasan Munadi dan Syekh Hasan Dipuro Kegiatan ini merupakan puncak acara dari penyelenggaraan haul Syekh Hasan Munadi.
Sebelum masuk ke makam dan melakukan tahlilan para peziarah wajib bersuci atau berwudhu, dengan tujuan menghormati tempat dan tokoh yang dikeramatkan.
Tahlilan adalah salah satu cara untuk menghormati leluhurnya dan sebagai pengingat bahwa setiap yang hidup pasti akan mati.
Dan cepat atau lambat hal tersebut pasti akan terjadi. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi