RADARSEMARANG.ID, Ungaran — Sebagai salah satu local wisdom (kearifan lokal), tradisi nyadran memiliki nilai-nilai tasawuf sosial yang erat kaitannya antara manusia (hablum minannas), alam (hablum minalalam), dan Tuhan (hablum minallah).
Selama ini banyak tradisi lokal memiliki nilai-nilai tasawuf tinggi.
Selain nyadran, di Nusantara ini ada tradisi sedekah bumi (kabumi), sedekah laut (kalaut), megengan, maleman, krayahan, bacakan, gas deso, apeman, oncoran, dan lainnya.
Meski nilai-nilai dalam nyadran tinggi, namun masih sedikit yang meneliti dan mengembangkannya sebagai ilmu tasawuf.
Perkembangan teknologi super cepat dan kita sekarang berada di era Revolusi Industri 4.0 memang membawa dampak disruption (ketercerabutan) dari berbagai aspek.
Sejarah Nyadran
Dari aspek etimologis, nyadran diambil dari berbagai bahasa.
Pertama, bahasa Indonesia, dalam KBBI, sadran-menyadran diartikan mengunjungi makam pada bulan Ruwah untuk memberikan doa kepada leluhur (ayah, ibu, dan lainnya) dengan membawa bunga.
Kedua, bahasa Sanskerta, sraddha artinya “keyakinan”.
Ketiga, nyadran dalam Bahasa Jawa berasal dari kata sadran yang artinya ruwah syaban lantaran dilakukan sebelum Ramadan.
Keempat, nyadran diambil dari Bahasa Arab, shodrun yang berarti dada.
Khamim (2018) berpendapat menjelang Ramadan, masyarakat harus ndodo (introspeksi diri), menyucikan diri dari aspek lahir dan batin.
Kelima, nyadran merupakan salah satu bentuk upacara tradisional di pulau Jawa, peninggalan Hindu yang dipadukan ajaran Islam.
Dalam nyadran terdapat ritual sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Keenam, nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang awalnya dari masyarakat dengan kepercayaan Hindu sejak abad 13 M.
Masuknya ajaran Islam di Jawa oleh Walisongo, mengakibatkan nyadran mengalami islamisasi.
Nyadran diadakan di bulan sebelum bulan puasa Ramadan.
Nyadran salah satu bentuk komunikasi ritual yang dipercaya mampu menghubungkan kepada para leluhur dan Sang Pencipta (Anam, 2017: 83).
Dari pendapat KBBI (2009), Khamim (2018) (Ibda, 2018), Noer (2015) dan Anam 2017, dapat disimpulkan nyadran merupakan tradisi Jawa yang diadopsi dari ajaran Hindu sejak abad 13 M.
Kemudian, diubah Walisongo menjadi islami.
Selain berhubungan dengan manusia dan alam, nyadran sarat akan laku tasawuf karena berhubungan dengan leluhur dan Sang Pencipta.
Di berbagai daerah, nyadran memiliki idiom dan praktik beda.
Di Semarang, Demak, Kendal, dan lainnya, para warga datang ke kuburan mendoakan leluhur/kedua orang tua.
Baca Juga: Lowongan Kerja 2025 BUMN Pegadaian Membuka Peluang Karir 3 Divisi
Ada yang membawa makanan dan ada yang tidak.
Di Grobogan, Pati, dan sekitarnya, selain berkunjung ke kuburan, nyadran disebut megengan dipraktikkan lewat tasyakuran bersama di musala atau masjid sebelum Ramadan.
Di Blora, nyadran dipraktikkan dengan besik kubur (membersihkan kuburan) dari kotoran dan biasanya dibarengkan dengan sedekah bumi atau gas deso.
Di Temanggung, Magelang, Salatiga, Solo, Jogjakarta, nyadran dilakukan di tiap dusun atau kampung dengan berziarah ke kuburan.
Mereka melakukan tahlil, doa bersama, meminta ampunan dan keseimbangan dengan alam.
Ketika Islam masuk di lingkungan masyarakat Jawa, aspek Islam yang dekat dengan tradisi Kejawen adalah ajaran mistiknya, yaitu tasawuf.
Hal ini terlihat jelas dari pandangan hidup orang Jawa yang memiliki kesamaan konsep dengan tasawuf.
Misalnya; urip iku sademo nglampahi, narimo ing pandum, sumarah, sabar, manunggaling kawulo gusti, sangkan paraning dumadi, sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana dan sebagainya.
Pola seperti ini menghasilkan ilmu kehidupan yang tanpa disadari mendarahdaging dalam kehidupan masyarakat Jawa yang beragama Islam.
Maka penguatan tasawuf sosial ini harus dikembangkan dengan pendekatan kearifan lokal yang erat kaitannya dengan tradisi, budaya, dan keinginan masyarakat.
Lewat gerakan ini, tasawuf sosial bisa eksis, karena masyarakat dibekali dengan ilmu pengetahuan yang sangat dekat dengan tradisinya.
Nyadran merupakan tradisi yang tercipta dari proses akulturasi antara budaya Jawa dengan budaya Islam.
Selain untuk menghormati leluhur, Nyadran selalu dilaksanakan setiap tahun untuk melestarikan tradisi tersebut secara turun-temurun.
Pelaksanaan tradisi Nyadran ditujukan untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggalkan dunia dan untuk mengingatkan diri bahwa semua manusia pada akhirnya akan mengalami kematian.
Nyadran juga dijadikan sebagai sarana guna melestarikan budaya gotong royong sekaligus upaya untuk menjaga keharmonisan masyarakat melalui kegiatan kembul bujono (makan bersama).
Prosesi Nyadran
Setiap daerah memiliki tata cara atau prosesi yang berbeda-beda.
Terlebih, setelah mengalami perubahan zaman, banyak prosesi Nyadran yang ‘baru’.
Seperti misalnya tambahan hiburan seperti pentas seni di akhir acara.
Namun, secara umum, di bawah ini urut-urutan prosesi tradisi Nyadran:
Besik
Prosesi pertama adalah kegiatan membersihkan makam leluhur dari segala macam kotoran dan rerumputan yang mengganggu.
Pada tahap ini, masyarakat akan saling bergotong-royong membersihkan.
Kirab
Setelah membersihkan makam, prosesi Nyadran dilanjutkan dengan arak-arakan atau kirab menuju tempat acara akan dilangsungkan.
Ujub
Ujub adalah kegiatan menyampaikan maksud dari rangkaian adat yang akan dilakukan oleh juru kunci atau pemangku adat.
Doa Bersama
Doa dipimpin oleh pemangku adat atau tokoh agama dengan tujuan mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal.
Kembul Bujono dan Tasyakuran
Kegiatan makan bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat.
Setiap keluarga diwajibkan membawa hidangan, di antaranya tumpeng, ayam ingkung, tempe, tahu, dan lain-lain.
Makanan yang dibawa terlebih dahulu diletakkan di tengah kemudian didoakan oleh pemuka agama.
Setelahnya, masyarakat akan mulai santap bersama.
Makna Nyadran
Makna tradisi Nyadran dapat digolongkan menjadi tiga.
Ketiganya adalah makna tradisi Nyadran untuk hubungan antarmanusia, antara manusia dengan Tuhan, dan makna ubarampe.
Di bawah ini penjabaran rinci tentang Tradisi Nyadran:
Makna Tradisi Nyadran untuk Antarmanusia
Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan sesamanya untuk dapat melanjutkan hidup.
Nyadran hadir untuk mengingatkan manusia agar saling bergotong royong dan memiliki rasa kebersamaan dalam hidup bermasyarakat.
Makna Nyadran untuk Hubungan Manusia dengan Tuhan
Nyadran dapat bermakna wujud syukur atas berkah yang diberikan Tuhan, baik untuk umur, kesehatan, hingga hasil panen.
Tradisi ini juga sebagai pengingat masyarakat akan pasti datangnya kematian.
Makna Ubarampe Tradisi Nyadran
Banyak ubarampe yang digunakan dalam tradisi Nyadran, contohnya adalah tumpeng dan ayam ingkung.
Tumpeng melambangkan usaha manusia yang semuanya harus didasari atas kepercayaan kepada Tuhan.
Sementara itu, ayam ingkung dapat dimaknai sebagai penyerahan dan sifat pasrah manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tujuan Nyadran
Tradisi nyadran mempunyai makna tersendiri.
Adapun tujuan tradisi nyadran adalah untuk mengenang, mendoakan, serta mengenal para leluhur yang telah wafat.
Di samping itu, nyadran juga dimaknai sebagai kesempatan bagi anak-cucu untuk mengambil nilai kebaikan dari para leluhurnya serta mengingatkan diri sendiri bahwa setiap manusia akan menghadapi kematian.
Pada umumnya, proses tradisi nyadran berbeda-beda untuk setiap daerah di Jawa.
Namun, mayoritas masyarakat Jawa melakukan tradisi nyadran yang dimulai dengan ziarah ke makam para leluhur.
Ada beberapa hal yang dilakukan selama berziarah, seperti membersihkan makam, berdoa, serta menabur bunga.
Di samping itu, ada pula masyarakat yang melanjutkan tradisi nyadran dengan cara melakukan tahlil di rumah untuk berdoa.
Biasanya, masyarakat Jawa akan menggunakan jajanan apem dalam pelaksanaan tahlil.
Mendoakan orang yang sudah meninggal atau memohon istighfar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala untuk mereka yang sudah meninggal merupakan anjuran syariat.
Baca Juga: Taruna Akmil Lulus Langsung Berpangkat Letnan Dua Letda, Ini Jurusan Program Studinya
Dalilnya diterangkan secara tegas dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman Surat Al Hasyr Ayat 10 yang berbunyi;
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌࣖ ١٠
walladzîna jâ’û mim ba‘dihim yaqûlûna rabbanaghfir lanâ wa li’ikhwâninalladzîna sabaqûnâ bil-îmâni wa lâ taj‘al fî qulûbinâ ghillal lilladzîna âmanû rabbanâ innaka ra’ûfur raḫîm
Artinya: Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS: Al Hasyr Ayat 10)
Kemudian dalam Hadis Menerangkang bahwa
Dari Ummu Salamah ia berkata; Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang ke rumah kami untuk menjenguk jenazahnya.
Saat itu, mata Abu Salamah tengah terbeliak, maka beliau pun menutupnya. Kemudian beliau bersabda, “Apabila ruh telah dicabut, maka penglihatan akan mengikutinya dan keluarganya pun meratap hiteris.
Dan janganlah sekali-kali mendoakan atas diri kalian kecuali kebaikan, sebab ketika itu Malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan.”
Setelah itu, beliau berdoa, “Allahummaghfir Liabi Salamah Warfa’ Darajatahu Fil Mahdiyyiin Wakhlufhu Fi ‘Aqibihi Fil Ghaabiriin, Waghfir Lanaa Walahu Yaa Rabbal ‘Alamiin, Wafsah Lahu Fii Qabrihi Wa Nawwir Lahu Fiihi”
(Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya.
Ampunilah kami dan ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah dia di dalam kuburnya).” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan.
Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang tepercaya.
Apabila doa itu sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia berikut segala isinya.
Dan sesungguhnya Allah menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung.
Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.” (HR Ad-Dailami).
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan adapun doa dan bersedekah, maka keduanya telah disepakati (ijma) akan sampai kepadanya (mayit), dan keduanya memiliki dasar dalam nash syariat.
Kaum Salaf dan Khalaf terus menerus mendoakan orang yang sudah wafat, memohonkan rahmat dan ampunan, dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya.
Pagi hari itu cuaca cerah sangat bersahabat, banyak warga Kalirejo berangkat ke Makam Senali dari Pukul 05.45 WIB.
Ratusan warga Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang mengikuti tradisi nyadran di Makam Senali, Kamis (17/1) kemarin.
Warga berbondong-bondong menuju Makam Senali yang berada di pinggir Jalan Tol Semarang Solo.
Mereka ada yang membawa daun pisang, dunak atau bakul berisi nasi, sayur sambal goreng, daging ayam, lauk pauk, buah-buahan, dan aneka minuman.
Berjalan melintasi jalan setapak, menanjak, hingga bertemu Bukit Senali.
Setibanya di lokasi Makam Senali Kalirejo, warga mengikuti pembacaan tahlil dan doa bersama untuk arwah leluhur yang telah tiada.
Warga tetap antusias mengikuti rangkaian-rangkaian acara nyadran tersebut.
Kepala Kelurahan Kalirejo Bapak Jarwo Supriyadi mengatakan ” Kami selaku pemerintah Kalirejo Mengucapkan Terima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kegiatan nyadran kali ini.
Harapan kami momen nyadran ini marilah kita sama-sama mawas diri, mengevaluasi diri, koreksi diri.
Kita evaluasi bagaimana jasa dan cita-cita para leluhur nenek moyang kita.
Baca Juga: Peluang Banyak Lowongan Kerja di BUMN BTN 2025, Siapkan Syaratnya
Mengenang jasa para leluhur kita. Masih adakah hal yang belum dilakukan oleh kita.” ujarnya.
“ Sekali lagi panjenengan sudah melakukan itu, selanjutnya kegiatan ini bisa dilakukan tahun mendatang.
Selanjutnya niat baik kegiatan kita saat ini mendapatkan ridlo dari allah subhanahu wa ta’alla.” tegas pak lurah.
Kemudian setelah pidato dari Kepala Kelurahan Kalirejo selesai acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dilanjutkan dengan makan bersama diatas daun pelepah pisang.
Semua warga baur membaur untuk saling berbagi makanan dan minuman yang dibawa.
Nampak sangat guyub suasana acara nyadran tersebut.
Tidak hanya warga dari Kalirejo saja yang ikut dalam acara nyadran ini.
Khamim (55) warga dari Wujil Kecamatan Bergas ini berangkat dari rumah jam 5 pagi tadi, meski bukan warga sini dia datang untuk mengikuti acara nyadran ini karena mewakili kakaknya yang sudah meninggal tahun lalu yang sudah domisili di Rekesan Kalirejo dan dimakamkan di Makam Senali ini cetusnya.
Warga Kelurahan Kalirejo sendiri mengadakan acara nyadran ini setahun 3 kali diantaranya;
Jadwal Nyadran Kalirejo Kecamatan Ungaran Timur:
1. Dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon Bulan Rajab warga yang di makamkan di Makam Siroto dan Makam Sethileng lokasinya di Halaman Kelurahan Kalirejo.
Baca Juga: Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Membentuk Generasi Bangsa Unggul Berkarakter
2. Dilaksanakan pada hari Jumat Wage Bulan Rajab warga yang di makamkan di Makam Senali Lor dan Makam Senali Kidul lokasinya di Makam Bukit Senali Pinggir Jalan Tol Semarang Solo.
3. Dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon Bulan Syawal warga yang di makamkan di Makam Badi Thosari lokasinya di Bukit Makam Badi Thosari.
Dari keterangan di atas sangat jelas bahwa mensedekahkan harta maupun bacaan-bacaan doa dan Al-Qur’an yang pahalanya ditujukan kepada mayit, maka pahala tersebut akan sampai.
Pernyataan tersebut juga banyak ditemukan diberbagai kitab para ulama salaf, seperti dalam kitab Nailul Awthar juz 4 halaman 142, kitab Al-Adzkar Imam Nawawi halaman 150, kitab Al-Ruh halaman 143, dan yang lainnya.
Dalam kitab Al-Dakhirah al-Tsaminah halaman 64, dikatakan bahwa Imam Syafi’i pernah berziarah ke makam Layts bin Sa’d kemudian beliau membaca Al-Qur’an sekali khatam, kemudian Imam Syafi’i berkata: Saya berharap semoga perbuatan seperti ini (membaca Al-Qur’an di depan makam Imam al-Layts) tetap berlanjut dan senantiasa dilakukan.
Sedangkan dalam kitab Dalil Al-Falihin juz 6 halaman 103, Imam Syafi’i menyatakan bahwa:
ويستحب أن يقرأ عنده سيء من القرأن وإن ختموا القرأن كله كان حسنا (دليل الفالحين ، ٦: ١٠٣).
Wa yustahabbu an yuqra a ‘indahu syaiun minal qur’aani wa In khatamul qur’ana kullahu kaana hasanan.
Baca Juga: Fotokopi KTP Mau Dihapus dari Syarat Administrasi dan Sistem Verifikasi Diganti dengan Ini
Artinya: Disunnahkan membaca sebagian ayat Al-Qur’an di dekat mayit, dan lebih baik lagi jika mereka (pelayat) membaca Al-Qur’an sampai khatam (Dalil Al-Falihin, 6: 103). (fal/bas)
Editor : Baskoro Septiadi