RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Pakis Bringin berjalan meski hanya ada 6 siswa.
Sejak 5 tahun terakhir ini SDN Pakis Bringin menerima siswa saat PPDB dibawah 10. Tahun ini ada 6 siswa yang menjadi siswa disana.
Kepala Sekolah SDN Pakis Bringin Tanwir mengatakan dengan siswa berapa pun harus tetap terlayani.
Tidak terpenuhinya kuota dikarenakan letak SDN Pakis Bringin lebih masuk jika dibandingkan dengan sekolah lainnya.
Di Desa Pakis ini hanya ada satu SDN Pakis dan satu MI. Meski begitu Tanwir menegaskan hingga saat ini jika ada yang mau masuk SDN Pakis Bringin meski sudah memasuki masa pelajaran masih dibuka.
"Jumlah siswa kelas 1 ada enam siswa. Memang jangkauan dari SDN Pakis ini ya hanya lingkungan ini saja. Karena disebelah timur ada MI,"ungkapnya.
Berkaitan dengan tenaga pendidik Tanwis menegaskan tidak ada masalah. Artinya, tidak ada kekurangan tenaga pendidik. Sedikitnya siswa yang ada disekolah tentu berpengaruh pada penerimaan bos.
"Cukup tidaknya ya dicukupkan. Karena dengan siswa seluruhnya di SDN Pakis Bringin berjumlah 54 siswa enam kelas tentu mendapatnya tidak banyak. Bos Rp 950.000. Tapi alhamdulillah kemarin nilai rapotnya naik sehingga dapat tambahan bos kinerja,"lanjutnya.
Untuk menarik banyak orang tua untuk menyekolahkan ke SDN Pakis Bringin pihak sekolah menambah ekstrakulikuler baca tulis Alquran, sholat dhuha, sholat dhuhur berjamaah dan menghafal surat pendek. Penambahan tersebut dilakukan karena warga Bringin memang kental dengan agamanya.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Semarang Budi Riyanto megatakan layanan pendidikan terus dibuka meski hanya ada beberapa siswanya saja.
Ia juga menegaskan tidak ada sekolah yang kekukurangan murid karena saat ini yang digunakan bukan batas minimal.
Budi menjelaskan rata-rata sekolah negeri dengan jumlah siswa dibawah 10 berada diirisan perbatasan.
Ditanya soal regrouping dengan siswa kurang dari 10, Budi menegaskan melakukan proses regrouping tidak bisa langsung setahun dua tahun.
Siswa yang sudah diterima harus dihabiskan atau diluluskan dulu. Apalagi jika di Desa hanya ada satu sekolah SDN tentu tidak akan dilakukan regrouping meski hanya ada beberapa siswa saja.
"Kami ini kan memberikan layanan pendidikan. Sehingga berapapun siswanya ya kita layani. Inikan kewajiban kami,"timpalnya. (ria/bas)
Editor : Baskoro Septiadi