RADARSEMARANG,ID- Kecamatan Bergas merupakan salah satu wilayah kecamatan atau distrik yang berada di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Secara politis, kecamatan ini terbentuk dari hasil pemekaran Kecamatan Klepu menjadi Kecamatan Bergas dan Kecamatan Pringapus.
Bergas berada sekitar 7 kilometer dari Ungaran, ibukota Kabupaten Semarang. Dengan pusat pemerintahannya berada di Kelurahan Bergas Lor.
Kecamatan ini menaungi empat kelurahan dan sembilan desa yang masing-masing memiliki budaya dan sejarah masing-masing.
Di Kelurahan Bergas Lor dan Desa Bergas Kidul memiliki toponimi unsur penamaan yang menjadi asal-usul tempat ini dinamakan Bergas.
Berdasarkan wawancara dan pendekatan secara historis terkait toponimi wilayah, Kecamatan Bergas memiliki kisah rakyat terkait penamaan wilayah ini.
Asal Usul Nama Bergas
Keberadaan wilayah Bergas tidak bisa dilepaskan dari kaitannya dengan peninggalan Kerajaan Demak dan Kerajaan Mataram.
Awalnya wilayah ini didatangi oleh ketiga saudara dari Demak Bintara, mereka awalnya mendirikan sebuah kerajaan di wilayah ini.
Namun salah satu dari mereka memutuskan untuk memisahkan diri dan mengembara jauh lebih jauh ke arah timur.
Kedua saudara yang tersisa bernama Bagas dan Sri yang melakukan babat alas, lalu menetapkan daerah tersebut sebagai wilayah kekuasaannya.
Makin meluas makin banyak pula orang yang berdatangan dan menempati wilayah ini, sehingga suatu saat keturunan dari kedua tokoh tersebut saling merebutkan kekuasaan masing-masing dan mengklaim bahwa daerah tersebut miliknya.
Akhirnya desa tersebut dibagi menjadi dua bagian, yakni Desa Bergas Lor (Utara) yang merupakan daerah milik keturunan Sri dan Bergas Kidul (Selatan) yang dimiliki oleh keturunan dari Bagas.
Penamaan desa ini menjadi Bergas adalah penyebutan warga sekitar yang lebih menyederhanakan nama dari kedua pembuka jalan berdirinya desa ini.
Nama Bagas dan Sri yang digabungkan menjadi nama wilayah juga lambat laun melekat di masyarakat Kecamatan Bergas yang hingga kini masih bertahan dengan nama tersebut.
Source: Universitas Diponegoro.
Editor : Tasropi