RADARSEMARANG.ID - Setelah menguasai hampir seluruh wilayah Asia, Kekaisaran Jepang yang kekurangan prajurit melakukan rekrutmen terhadap para pemuda Korea Selatan.
Mereka ditempatkan di daerah-daerah koloni Jepang yang menyebar dari Manchuria hingga Indonesia. Kebanyakan prajurit Korea ini dipaksa bergabung dengan tentara Jepang.
Jepang sendiri telah menduduki wilayah Korea, termasuk kini menjadi Korea Utara dan Korea Selatan sejak tahun 1933.
Jepang dinilai sangat kejam dalam mengatur dan menjajah Negeri Ginseng ini, banyak literatur yang menyebut kekejaman tentara Jepang disana.
Termasuk perbudakan seksual (Jugun Ianfu) dan berbagai pembantaian yang dilakukan kepada masyarakat Korea masa itu.
Hingga kini sentimen warga Korea Selatan terhadap hal-hal berbau Jepang masih cukup tinggi. Meskipun kedua negara sudah sepakat damai, namun masih ada desas desus anti-Jepang yang cukur ramai.
Pemberontakan Tentara Korea di Ambarawa
Tentunya, penempatan para tentara asal Korea ini tak lepas dari salah satu wilayah koloni yang dikuasai Jepang kala itu, Indonesia.
Hampir sekitar seratus sepuluh ribu orang diberangkatkan dari Korea menuju daerah-daerah di Indonesia, yang kala itu masih menjadi bagian dari koloni Kekaisaran Jepang.
Kebanyakan tentara Korea ini ditempatkan di kamp-kamp untuk menjaga tahanan, mereka hanyalah tentara berpangkat kecil yang kerap didiskriminasi juga oleh sesama rekan kerjanya.
Selama bekerja, mereka kerap mendapat penganiayaan dari tentara Jepang yang menganggap warga Korea merupakan masyarakat kelas dua yang ada dibawah levelnya.
Selain diskriminasi, emosi para prajurit ini memuncak saat tahu bahwa Jepang ternyata memperpanjang masa kerja tanpa persetujuan dan tidak mau memulangkan mereka ke Korea.
Baca Juga: Sejarah dan Eksistensi Mistik Mbah Dul Jalal, Arca Ganesha Terbesar di Semarang Raya
Desas-desus pemberontakan mulai terdengar dari gerakan bawah tanah Korea yang ada di Indonesia, tepatnya diinisiasi oleh para prajurit Korea yang ditempatkan di Ambarawa.
Akhirnya pada Januari 1945, sebulan sebelum meletus pemberontakan PETA di Blitar. Para prajurit Korea ini melakukan perlawanan dan meletuskan peperangan di Kamp Tahanan Ambarawa.
Dengan keadaan yang seadanya, para prajurit Korea ini hanya mampu bertahan sekitar satu bulan sebelum akhirnya disapu bersih oleh militer Jepang.
Meskipun akhirnya perlawanan ini berhasil dipadamkan oleh tentara Jepang, namun perlawanan ini berhasil memunculkan perlawanan-perlawanan lain oleh para pejuang Indonesia karena tahu kondisi Jepang yang semakin sekarat oleh sekutu karena berbagai perang yang menghancurkan pertahanan Jepang di berbagai front.
Source: Perpustakaan Nasional, Divisi Sejarah (TikTok)
Editor : Baskoro Septiadi