RADARSEMARANG.ID - Kerusuhan di turnamen Piala Bupati Kabupaten Semarang yang berujung pengeroyokan wasit kini berbuntut panjang.
Peristiwa yang terjadi pada laga tarkam antara PS Putra Bakti Desa Patemon melawan PS Ar Rafi Ampel Kab Boyolali, Minggu (2/6).
Selain mencederai sportifitas, kejadian ini membuat beberapa pemain yang terlibat kekerasan terancam mendapatkan sanksi pidana.
Bahkan diantara pemain tersebut merupakan mantan pemain Timnas Indonesia dan beberapa masih aktif berkarir di Liga 1.
Beberapa pemain profesional yang diduga terlibat dalam kasus ini adalah Bayu Pradana yang merupakan mantan pemain Timnas Indonesia dan terakhir membela Barito Putera.
Kemudian ada nama Komarudin (Persikabo), Ilham Mahendra (Barito Putera), Hery Susanto (Eks Persita Tangerang), dan Wahyu Wijiastanto (Eks Timnas dan Persiba Bantul).
Selain lima nama di atas, ada sejumlah pemain lokal atau amatir yang ikut melakukan pengeroyokan.
Menurut kronologi aksi kekerasan ini berawal saat Bayu Pradana tak terima mendapat kartu merah.
Pemain yang merupakan mantan skuad Timnas Indonesia sekaligus pemain aktif di Barito Putera itu melakukan protes keras.
Tak cukup sampai di situ, Bayu Pradana kemudian memukul dan menendang wasit hingga memperovokasi pemain lain.
"Awal mula kejadian, @bayu13pradana mendapatkan kartu merah dan tidak terima kemudian melakukan protes terhadap wasit hingga memukul dan menendang wasit dan memprovokasi pemain lainnya." tulis akun @forumwasitindonesia.
Menurut akun yang sama, kasus pengeroyokan ini akan berlanjut ke jalur hukum akibat pihak korban meminta tindakan tegas agar tak kembali terulang.
Meskipun turnamen tarkam, tetapi kesebelasan yang berpartisipasi membawa beberapa nama besar dari Liga 1 dan Liga 2.
Tetapi nama besar pemain itu tidak menjamin pertandingan berjalan sportif dan menghibur masyarakat.
Justru kejadian yang mencoreng sepakbola itu terjadi untuk kesekian kalinya dan melibatkan mantan pemain timnas.
Editor : Baskoro Septiadi