RADARSEMARANG.ID - Tentunya dengan berbagai sejarah kebudayaan yang sangat kaya, Indonesia memiliki banyak sekali khazanah naskah-naskah kuno.
Dari berbagai latar agama dan budaya, kitab-kitab ini turut membuktikan kehebatan masyarakat Nusantara yang termasyhur di jamannya.
Salah satu yang menarik adalah Kitab Blawong, kitab ini merupakan sebuah kitab Alqur'an tulisan tangan dari Syekh Basyaruddin.
Syekh Basyaruddin sendiri merupakan sosok ulama di masa lalu yang memiliki andil dalam menyebarkan agama Islam di Pringapus, Kabupaten Semarang.
Syekh Basyaruddin merupakan tokoh yang sangat dikagumi karena berbagai
peninggalannya yang sangat berharga di antaranya adalah masjid, bedug, kolah, dan yang paling terkenal adalah Al Quran tulisan tangan yang dijuluki “Kitab Blawong”.
Nama Blawong berasal dari paraban atau julukan yang disematkan kepada kitab ini karena keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya.
Istilah ini berasal dari kata dalam Bahasa Jawa yang merupakan penggabungan kata dari Mbelani berarti Membela atau Mbilaheni yang berarti Mencelakakan.
Serta kata Wong yang berarti orang lain. Jadi bisa disimpulkan bahwa kitab ini menurut urban legend masyarakat setempat berarti mampu mencelakakan orang yang berniat buruk, tetapi yang pasti membela orang yang benar.
Kisah-kisah yang melatarbelakangi
Dalam kehidupan warga Pringapus, banyak urban legend yang berkaitan dengan kitab tulisan tangan dari Syekh Basyaruddin tersebut.
Konon disuatu masa ketika bencana kebakaran melahap habis seluruh Masjid Pringapus, disebutkan bahwa satu-satunya benda yang tidak tersentuh oleh api adalah kitab ini.
Lalu kembali ke era masa kolonial, suatu saat seorang Lurah (Haji Muhammad Afif) menerima laporan bahwa ada saudara yang kehilangan perhiasan emasnya, bahkan orang tersebut sudah mencurigai sebuah nama seorang wanita.
Baca Juga: Sejarah Gedung Kuning Ungaran, Bukti Kejayaan Hindia Belanda di Kota Serasi
Meskipun sudah diinterogasi, namun sang tersangka masih saja tidak mengakui perbuatannya mencuri perhiasan tersebut, hingga Haji Afif menawarkan sebuah solusi.
Yakni bersumpah di hadapan Alqur'an tulisan tangan Syekh Basyaruddin, namun setelah menyanggupi dan menyelesaikan sumpahnya, wanita tersebut masih menyangkal perbuatannya dan bahkan tidak merasa bersalah sama sekali.
Naasnya, sepulang dari pengambilan sumpah tersebut, wanita tersebut sakit parah dan bahkan tidak lama setelah kejadian tersebut ia meninggal dunia.
Semenjak peristiwa tersebut, ditambah banyak kejadian lainnya yang berkaitan dengan kitab bersampul kulit kambing tersebut, masyarakat Pringapus menyebut Alqur'an tulisan Syekh Basyaruddin bisa digunakan untuk membuktikan kebenaran atau menyumpah.
Tak jarang masyarakat Pringapus melakukan pembuktian sumpah didepan Kitab Alqur'an Blawong hingga kitab ini mulai terkenal dengan sebutan Kitab Blawong.
Source: Universitas Diponegoro, wisata-media.com