Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Jelang Ramadan, Sendang Kalimah Thoyyibah Nyatnyono Ramai Peziarah, Jadi Tempat Ngalap Berkah

Nurfa'ik Nabhan • Minggu, 10 Maret 2024 | 19:37 WIB
Kondisi Sendang Kalimah Toyyibah yang ada di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat. NURFAIK NABHAN/Jawa Pos Radar Semarang
Kondisi Sendang Kalimah Toyyibah yang ada di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat. NURFAIK NABHAN/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Berbagai tradisi menyambut bulan suci Ramadan masih tetap dilestarikan masyarakat. Salah satunya tradisi padukan yang masih tetap eksis di Kabupaten Semarang.

Masyarakat berbondong-bondong untuk mensucikan diri dan ngalap berkah di Sendang Kalimah Thoyyibah atau dikenal dengan Sendang Nyatnyono, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat.

Sendang ini merupakan peninggalan dari Waliyullah Hasan Munadi. Peziarah percaya dengan karomah sang wali. Sehingga banyak yang sengaja datang untuk mensucikan diri dan ngalap berkah.

Tradisi atau ritual padusan di sendang ini banyak dilaksanakan mendekati hari pertama puasa. Biasanya tiga hari sebelum pelaksanaan puasa.

Tradisi ini sekaligus sebagai simbol penyucian diri umat muslim dalam menjalani ibadah puasa.

"Biasanya para peziarah mulai berdatangan tiga hari sebelum puasa pertama," kata Juru kunci Sendang Kalimah Toyyibah, Ahmadji.

Setiap menjelang Ramadan, banyak yang berkunjung ke Sendang Kalimah Toyyibah untuk melakukan tradisi padusan. Mayoritas peziarah datang mendekati waktu Magrib.

Sebagian mempercayai jika tradisi padusan dilakukan pada malam hari maka akan semakin banyak keberkahan yang akan diterima.

Peziarah yang datang ke Sendang Kalimah Toyyibah tidak hanya masyarakat Kabupaten Semarang saja melainkan banyak peziarah dari luar kota. Seperti Kendal, Kota Semarang, Pekalongan, Jakarta, Jawa Timur, hingga Jawa Barat.

"Kemungkinan nanti puncaknya di hari Senin sebelum berpuasa. Biasanya langsung penuh area sendang bahkan area parkir sampai kewalahan," ujarnya.

Ia sendiri sudah menjadi juru kunci di Sendang Kalimah Toyyibah sejak 1986. Menurutnya tradisi padusan ini bertujuan untuk mensucikan diri dari kotoran agar hati bersih saat menjalankan ibadah puasa.

Para peziarah meyakini air di Sendang Kalimah Toyyibah bisa menjadi sarana tawasul. Diantaranya untuk pengobatan hingga untuk keperluan usaha.

"Tidak hanya padusan, banyak peziarah juga membawa air sendang untuk dibawa pulang," terangnya.

Umumnya setelah melakukan ritual padusan, para peziarah kemudian berziarah ke makam Syekh Hasan Munadi dan Syekh Hasan Dipuro yang letaknya berada di atas sendang. Namun ada juga yang melakukan sebaliknya.

Disisi lain dengan adanya tradisi padusan di area Sendang Kalimah Toyyibah juga menjadi berkah bagi para warga yang memiliki warung di sekitarnya.

Karena banyak peziarah yang mampir bahkan membeli jerigen untuk dijadikan tempat air yang akan dibawa pulang.

Selain itu para warga yang menyewakan sarung juga ikut 'kecipratan' rejeki. Dikarenakan para peziarah jika hendak melakukan padusan harus menggunakan sarung.

"Di sendang ini terdapat beberapa pancuran yang berasal dari sumber mata air alami yang bisa digunakan para peziarah untuk mandi atau padusan," tambahnya. (nun/fth)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Sendang #Nyatnyono #Ramadan