RADARSEMARANG.ID, Getasan - Ratusan warga Desa Polobogo, Kecamatan Tuntang kembali menggelar haul di komplek Makam Mbah Kembang Kuning yang ke 426 Senin (5/2).
Puluhan tenong yang berisi makanan juga tersaji dalam kegiatan haul tersebut.
Sejak pagi, warga sudah memadati area komplek pemakaman dengan membawa berbagai makanan yang diletakkan di bakul besar atau tenong.
Tidak hanya itu, Bupati Semarang, Ngesti Nugraha juga hadir dalam agenda haul tersebut.
Peringatan Haul Kembang Kuningan ini merupakan salah satu tradisi yang berada di Desa Polobogo.
Sudah turun temurun tradisi ini dilakukan oleh warga setempat untuk menghormati Kyai Soreng dan Nyai Soreng sebagai penyebar agama Islam di Desa Polobogo.
"Tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur warga dengan membawa tenong-tenong yang berisikan makanan. Yang nanti akan dimakan bersama-sama," ungkap Pamong Budaya Kecamatan Getasan, Setyo Widodo.
Haul Kembang Kuning sendiri digelar setiap tahunnya di hari Senin Pahing di bulan Rajab.
Serangkaian acara atau tradisi yang dilakukan pun tidak jauh beda dengan tradisi jawa pada umumnya.
"Dan menariknya yang hadir dalam tradisi ini tidak hanya warga Polobogo melainkan warga dari luar desa hingga luar daerah,” katanya.
Setyo mengungkapkan tradisi nyadran di Polobogo memiliki suasana seperti tradisi saparan. Karena setelah agenda haul di komplek makam, seluruh masyarakat membuka open house untuk warga sekitar.
Sementara itu, Camat Getasan, Slamet Widodo menyebutkan di bulan Rajab ini sebagian besar di wilayah Getasan banyak tradisi. Salah satunya di Polobogo dan kemarin Rejeban di Desa Ngrawan.
"Karena ini sudah menjadi tradisi yang terus dilakukan maka sudah menjadi kewajiban moral untuk dilaksanakan," ungkapnya.
Selain itu warga sekitar juga membuka tenongan sebagai pengganti sesaji dalam kegiatan haul tersebut. Dan nantinya makanan baik makanan berat ataupun ringan akan dimakan bersama.
"Dan itu sebagai sedekah para warga sekitar. Karena di Islam juga semakin banyak bersedekah semakin berkah dan rezeki," terangnya.
Slamet menyebutkan tradisi semacam ini akan terus berlanjut karena sudah menjadi kearifan lokal.
Serta pemerintah setempat akan selalu mendukung dan mengawal serta memberikan fasilitas.
"Agar bagaimana tradisi tersebut bisa berjalan dengan fasilitas yang kita berikan. Sehingga tempat untuk hajatan atau tradisi berlangsung bisa nyaman," pungkasnya. (nun/bas)
Editor : Baskoro Septiadi