RADARSEMARANG.ID, UNGARAN - Warga Desa Samirono, Kecamatan Getasan manfaatkan kotoran hewan (kohe) sapi menjadi biogas dan pupuk.
Bahkan mayoritas di warga menggunakan biogas untuk memasak maupun kelistrikan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dusun Tawang, Slamet. Pemanfaatan biogas di Dusun Tawang sendiri digagas mulai tahun 2016.
Namun gagasan tersebut baru terealisasi di tahun 2018 dimana terdapat dua titik yang dijadikan pengolahan biogas tersebut.
"Itu kita swadaya dan dibantu juga dengan Dana Desa untuk pembuatannya. Kemudian kita juga bekerjasama dengan Yayasan Sion Salatiga," ungkapnya Minggu (3/12).
Di tahun 2021, Desa Samirono mendapatkan 30 titik untuk pemanfaatan biogas. Dan berlanjut di tahun 2022 terdapat 20 titik baru yang dikembangkan oleh masyarakat.
Menurutnya pemanfaatan biogas tersebut sangat berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar. Karena di Desa Samirono sendiri mayoritas masyarakat sebagai peternak sapi perah.
"Selama saya menggunakan biogas ini, saya tidak pernah membeli gas melon untuk memasak. Terkecuali terdapat hajatan besar baru menggunakan gas melon," katanya.
Ia menyebutkan saat ini di Dusun Tawang terdapat 18 titik pengolahan biogas.
Kemudian berdasarkan inisiatif dibentuklah kelompok petani biogas untuk menampung pupuk hasil limbah pengolahan biogas.
"Dari 18 warga ini, kemudian setor pupuk hasil sisa biogas tadi dan kita hargai. Satu angkong atau sekitar 20 kilogram itu kita hargai Rp 750," bebernya.
Biogas ditempatnya saat ini sementara ia manfaatkan untuk kebutuhan memasak. Untuk kelistrikan masih belum karena membutuhkan biaya lebih untuk menyesuaikan peralatan khusus untuk biogas.
"Sebelum pakai biogas itu sebulan saya bisa membayar listrik sekitar Rp 100 ribu dan gas melon itu tiga atau sekitar Rp 60 ribu. Tapi sekarang listrik itu hanya membayar Rp 65 ribu dan tidak memakai gas melon lagi," katanya.
Hal serupa diutarakan oleh, Yakubus, salah satu warga Dusun Pongangan.
Ia sudah menggunakan biogas sebagai pengganti tabung gas untuk memasak selama 22 tahun. Karena dengan adanya biogas bisa menekan pengeluaran dan bisa untuk berhemat.
"Bahkan ini saya sudah mengganti kompor sebanyak tiga kali. Tapi untuk instalasi dan pipa malah belum pernah, paling saya bersihkan saja," lanjutnya.
Biodigester miliknya merupakan model lama yang masih menggunakan dua kubah.
Sedangkan biodigester yang baru hanya membutuhkan satu kubah saja untuk penampungan.
Ia mengungkapkan awal ia bersama kelompok petani di tahun 1999 membuat inovasi tersebut yang bisa menguntungkan masyarakat.
Cukup dengan beberapa ekor sapi di belakang rumah, kebutuhan gas untuk memasak sudah terpenuhi.
"Dan di Samirono ini sudah banyak yang menggunakan biogas sebagai pengganti bahan bakar untuk memasak. Karena dianggap irit dan tidak perlu mengeluarkan biaya lagi," terangnya.
Sementara itu, Kepala Desa Samirono, Slamet Juriono, mengatakan inovasi biogas ini berawal dari keprihatinan warga Samirono khususnya Dusun Pongangan.
Karena banyaknya hewan ternak menimbulkan permasalahan terkait dengan limbah kotoran hewan ternak.
“Jika permasalahan limbah kotoran tersebut tidak segera ditangani, takutnya nanti membuat masalah yang baru. Pada akhirnya inovasi pembuatan biogas,” ungkapnya.
Unit reaktor biogas di Desa Samirono dibangun pertama kali pada tahun 1992, hingga akhirnya di tahun 2022 terdapat 94 unit yang sudah terbangun.
Masing-masing biodigester tersebut memiliki volume biogas yang bervariasi, mulai dari enam meter kubik hingga seratus meter kubik
“Kita juga menggandeng dinas terkait sangat mendukung dengan adanya program desa tersebut. Salah satunya ketika ada wacana dan upaya menjadikan Desa Samirono menjadi desa mandiri energi,” katanya. (nun)
Editor : Agus AP