RADARSEMARANG.ID, UNGARAN - Angka stunting di Kabupaten Semarang mengalami penurunan dari 3284 anak menjadi 2674 anak.
Pemkab Semarang sendiri menargetkan angka stunting bisa turun hingga akhir tahun.
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengungkapkan pihaknya terus melakukan treatment dan terus memberikan bantuan tambahan makanan untuk balita stunting.
Serta bantuan-bantuan dari pihak ketiga yang membantu percepatan penurunan stunting di Kabupaten Semarang.
"Kita terus melakukan mapping dan fokus untuk membantu penurunan stunting. Baik dari pemerintah daerah, pemerintah desa/kelurahan, hingga pemerintahan pusat," ungkapnya Kamis (9/11).
Penurunan angka stunting hingga 2674 anak menurutnya berkat bantuan bersama-sama. Terlebih bagi para kader yang ada di desa maupun di kelurahan.
"Pemberian edukasi kepada para orang tua juga kita lakukan karena itu penting. Orang tua menjadi salah satu pengawas pertumbuhan anak-anak di lingkup keluarga," katanya.
Tidak hanya itu, di Kabupaten Semarang juga terdapat anak stunting yang permanen yakni terdapat 452 anak.
Anak stunting permanen tersebut sudah sejak dalam kandungan.
"Maka dari itu kepada ibu-ibu yang tengah hamil untuk senantiasa periksa ke puskemas terdekat atau ke rumah sakit, " jelasnya.
Ngesti berharap menjelang akhir tahun ini angka stunting di Kabupaten Semarang bisa kembali turun hingga bisa mewujudkan zero stunting.
Dan pihaknya akan terus melakukan upaya percepatan penurunan stunting.
Upaya tersebut seperti pemberian makanan tambahan yang diinisiasi oleh pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional.
Bantuan tersebut berupa pemberian paket telur dan daging ayam beku. Seperti yang dilakukan di Kantor Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat Kamis (9/11).
"Ini terdapat 210 penerima bantuan, itu terdiri dari 166 penerima dari Desa Kalisidi dan 44 penerima dari Desa Branjang, " ujar Kepala Desa Kalisidi, Dimas Priyatna Putra.
Di Desa Kalisidi angka stunting juga mengalami penurunan dari 29 anak menjadi 18 anak.
Angka tersebut dari jumlah total balita di Desa Kalisidi yang berjumlah sekitar 570 anak.
"Jika di presentase di Desa Kalisidi hanya tiga persen anak yang mengalami stunting, " terangnya.
Pemdes Kalisidi juga melakukan upaya pemberian makanan tambahan sebagai stimulan untuk anak umur 0-5 tahun.
Serta melakukan gerakan minum susu serentak di SD/MI dengan jumlah 600 siswa.
"Untuk anggaran kita menggunakan Dana Desa untuk melakukan upaya tersebut. Dimana pemdes di tahun 2023 penetapan sekitar Rp 35 juta, tetapi konkretnya kalau ditambah PMT itu hampir Rp 60 juta," bebernya.
Dimas berharap percepatan penurunan stunting bisa dikerjakan bersama-sama dan tidak tumpang tindih.
Dan ia meminta agar tidak terlalu membebankan banyak indikator ataupun aplikasi kepada para kader di desa. (nun)
Editor : Agus AP