RADARSEMARANG.ID, UNGARAN - Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) menyebutkan luasan kebakaran hutan di Gunung Merbabu mencapai 848,5 hektare.
Luasan tersebut masih bisa bertambah kembali melihat kondisi percepatan api dan kondisi angin kencang.
PLT Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Nurpana Sulaksono menyebutkan per hari Minggu (29/10) luasan yang terdampak kebakaran meningkat hingga 400 hektar.
Di mana sebelumnya di Sabtu (28/10) lahan yang terbakar seluas 487,07 hektare.
"Berdasarkan perhitungan dari kami sampai sore tadi luasan kebakaran mencapai 848,5 hektare. Dan sebagian besar ada di ketinggian 2000 Mdpl," ujarnya.
Dalam kebakaran tersebut berbagai vegetasi yang ada di Gunung Merbabu juga terdampak. Seperti pohon pinus, pohon puspa, salam, dan akasia.
"Sedangkan yang ada di ketinggian 2000 mdpl yang terdampak ada sabana atau padang rumput, edelweis, cantigi dan semak belukar," terangnya.
Ia juga menyebutkan untuk arah perluasan kebakaran cenderung mengarah ke lereng bagian selatan dan timur.
Di mana lereng tersebut masuk ke dalam wilayah Kabupaten Boyolali.
"Kemudian BPBD Provinsi Jawa Tengah dan tim terpadu ini tengah mengupayakan water boombing, " katanya.
Pihak Balai TNGMb masih melakukan penyelidikan dan mendalami penyebab kebakaran yang terjadi.
Pasalnya penyebab kebakaran terdapat tiga, yakni ketersediaan bahan bakar, cuaca, dan adanya api.
"Dan saat ini cuaca angin sedang kencang, bahan bakarnya melimpah dan ada apinya. Pemantik apinya ini sebagian besar disebabkan oleh manusia, " ujarnya.
Di sisi lain, Kalakhar BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro mengungkapkan pihaknya sudah mempercepat proses dan administrasi sudah terselesaikan untuk permintaan water boombing.
Hanya tinggal menunggu jadwal dari BNPB Pusat.
"Kitta sudah mendesak agar segera direalisasi karena melihat perkembangan kebakaran semakin meluas. Sehingga harapan kita untuk waterboombing bisa segera terselesaikan, " katanya.
Kondisi angin kencang dan lahan yang kering menjadi kendala pemadaman. Bahkan pemadaman secara manual sudah tidak memungkinkan.
"Hanya yang mendekati pemukiman warga kita akan selesaikan dengan sekat api, " katanya.
Terkait dengan keberadaan api di medan yang terjal, pihaknya akan melihat terlebih dahulu kondisi. Jika mendekati pemukiman warga maka akan diutamakan menggunakan sekat api.
"Jadi setiap muncul titik api, kita akan tangani dengan melihat kondisinya terlebih dahulu," pungkasnya. (nun)
Editor : Agus AP