RADARSEMARANG.ID, UNGARAN - Memasuki era digitalisasi, pengusaha batik tulis mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya secara online.
Pasalnya mayoritas konsumen ingin melihat secara langsung produk yang akan dibelinya.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pemilik Batik Gemawang, Abdul Kholik Fauzi. Ia mengatakan pihaknya sudah mulai merambah ke pasar online.
Namun penghasilan yang didapatkan belum bisa maksimal dan signifikan.
"Omsetnya belum menjadi yang diharapkan. Namun ada peningkatan omset dari penjualan," katanya.
Kesulitan memasarkan produk dikarenakan harus menampilkan contoh batik ke konsumen.
Agar para konsumen bisa percaya dan tertarik membeli batik tulis yang diproduksinya.
“Sebagian konsumen memerlukan meraba sendiri, melihat sendiri produk batik yang mereka inginkan,” paparnya.
Ia mengaku jika juga terdapat beberapa konsumen yang sudah percaya dan tidak ragu untuk membeli produk batik tulis miliknya.
Sehingga memudahkan dalam bertransaksi secara online.
"Karena konsumen juga ingin tahu kualitas kain yang digunakan dan kualitas pewarnaannya," ungkapnya.
Meskipun penjualan online mengalami peningkatan hingga saat ini.
Namun omset paling besar yakni diatas 80 persen didapatkan melalui penjualan secara offline.
Fauzi menyebutkan promosi yang dilakukan untuk memasarkan produknya melalui getuk tular atau dari mulut ke mulut. Sehingga bisa menyebar luas hingga keluar Jawa Tengah.
"Mungkin dari getuk tular itu yang bisa memperkenalkan Batik Gemawang dan disukai banyak orang," katanya.
Satu kain batik tulis miliknya dijual dari harga Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Tergantung dari pewarnaannya dan tingkat kesulitan motif batiknya. (nun)
Editor : Agus AP