Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Taman Makam Pahlawan Kedayon Kabupaten Semarang, Saksi Kelam Pembantaian Ratusan Pejuang Getasan

Nurfa'ik Nabhan • Minggu, 17 September 2023 | 18:21 WIB

Taman Makam Pahlawan Kedayon, Desa Wates, Kecamatan Getasan saksi pembantaian ratusan pejuang.
Taman Makam Pahlawan Kedayon, Desa Wates, Kecamatan Getasan saksi pembantaian ratusan pejuang.
RADARSEMARANG.ID - Taman Makam Pahlawan Kedayon di Kabupaten Semarang merupakan saksi pembantaian ratusan pejuang asli Getasan.

Tidak ada nisan dan nama-nama pejuang layaknya taman makam pahlawan lainnya. Hanya tugu setinggi sekitar 4 meter dengan prasasti yang menyebutkan bahwa para pahlawan gugur akibat kekejaman Belanda antara tahun 1947-1949.

Lokasinya berada di Desa Wates, Kecamatan Getasan. Monumen di pinggir jalan dengan gerbang bertuliskan Makam Pahlawan.

Menurut penuturan pamong budaya Getasan, Setio Widodo, monumen dibangun untuk mengenang perjuangan pejuang yang dibantai pasukan Belanda.

Saat itu, para pejuang hendak bergerilya untuk mempertahankan kemerdekaan RI. "Kemungkinan kejadian saat agresi militer di tahun 1947 di bulan 10," ujarnya.

Setio menceritakan saat itu banyak pejuang yang terus berjuang. Kemudian tentara Belanda terus melakukan pembersihan. Pada masa itu juga terdapat Garis Van Mook.

Garis Status Quo merupakan perbatasan buatan yang memisahkan wilayah milik Belanda dan Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Peristiwa Linggarjati membuat Belanda mengakui beberapa wilayah Indonesia. Batas Indonesia dengan Belanda salah satunya di Klero, Kecamatan Tengaran.

"Kalau daerah Kota Salatiga sudah menjadi wilayah Belanda. Tapi kalau sudah ke arah Tengaran sudah milik Republik Indonesia," ujarnya.

Di daerah Getasan pernah terjadi pertempuran pada 8 Agustus 1947. Pertempuran di Dusun Kenteng dan Dusun Beji Desa Sumogawe.

Lokasinya masih jauh dengan Desa Wates. Sejumlah veteran pernah menyebutkan Belanda membantai lebih dari 400 pejuang Getasan.

"Menurut pengakuan sejumlah veteran, kejadian pembersihan yang dilakukan oleh pasukan Belanda terjadi tahun 1947 hingga 1949," ungkapnya.

Setio menyebutkan jika melihat gambar foto yang masih tersimpan di Nationaal Archive posisi Desa Wates diapit Desa Kopeng dan Desa Sumogawe.

Dijelaskan juga penangkapan istri para pejuang dikumpulkan di Sumogawe. Sedangkan pejuang banyak yang ditangkap di daerah Kopeng.

"Karena Kopeng saat itu daerah perbatasan dan sebagai daerah peristirahatan. Mau tidak mau Belanda harus menguasai wilayah itu, " lanjutnya.

Namun di satu sisi ketika sudah di arah Magelang, Sepakung, dan Pagergedog sudah masuk wilayah Indonesia.

Waktu itu Belanda untuk mengambil simpati masyarakat bekerja sama Palang Merah dengan memberikan baju.

"Salah satunya di Kalibeji, Tuntang. Itu posisinya di lapangan Kalibeji sebelah balai desa, " jelasnya.

Ia menyebutkan di Getasan sendiri selain memberikan baju, Belanda juga memperkenalkan toa atau pengeras suara.

Jadi setelah penangkapan pejuang tersebut para tentara Belanda mengambil simpati rakyat Indonesia.

"Kalau disini para pejuang melakukan perlawanan dan akhirnya tertangkap. Sehingga Belanda melakukan pembersihan di daerah Kopeng," ujarnya.

Menurut versi para veteran, para pejuang yang tertangkap disuruh menggali lubang sendiri. Setelah itu ditembak dan langsung dikubur di lubang tersebut.

Namun monumen tersebut dibuat di tanggal 17 Agustus 1957. Kerangka para pejuang sudah dipindahkan ke Salatiga tetapi tidak tahu secara pasti berapa jumlahnya.

“Jadi terdapat runtutan sejarah yang membuat adanya kejadian yang ada di daerah Getasan. Serta adanya politik dengan adanya perjanjian Linggarjati antara Indonesia dan Belanda,” tambahnya. (nun/fth)

 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Getasan #Taman Makam Pahlawan #Kabupaten Semarang