RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Ratusan sumur warga mengering saat kemarau. Hal ini dirasakan warga Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur. Kekeringan mulai terjadi sejak awal 2023.
Kepala Desa Kalikayen Sugiono mengungkapkan, saat ini warganya krisis air bersih. Krisis ini dibuktikan dengan mengeringnya sumur milik warga yang sudah berlangsung kurang lebih tiga bulan ini.
Hal ini membuat sumur warga mengering dan membuat warga kesulitan untuk mencuci, mandi, dan kebutuhan lainnya.
"Ada 200 sumur warga yang kering. Kami tentu mengandalkan air bersih yang di droping oleh beberapa instansi maupun dari BPBD,"ungkapnya Minggu (13/8).
Warga Desa Kalikayen Sayaah, 60, mengatakan, dampak kekeringan pada tahun ini membuatnya harus menempuh jalan kaki sejauh satu kilometer untuk mencari air.
Tentu dengan membawa dua galon. Usianya yang tidak lagi muda membuatnya kesulitan saat membawa galon yang terisi air.
"Iya sumur saya sudah kering. Ini dalamnya 17 meter tidak bisa digunakan. Kadang minta bantuan tetangga karena saya sudah tidak kuat lagi mengangkat dua galon berisi air," jelasnya.
Senada dengan Sayaah, Utama juga mengungkapkan untuk mencukupi kebutuhan air saat ini bisa mengambil dari sungai. Biasanya warga mengeruk tanah sedalam dua meter agar airnya bisa muncul.
"Terkadang juga untuk mencuci warga sekitar. Hari minggu biasanya banyak warga yang dari padi sudah ke sungai, " jelasnya.
Saat ini pun sumur miliknya sudah mulai berkurang debit airnya. Sehingga ia hanya bisa menunggu bantuan air bersih dari berbagai pihak.
Ketua RT 03 RW 04, Dusun Kebontaman, Desa Kalikayen Markunis menyebutkan musim kemarau tahun ini adalah yang paling parah. Pasalnya di tahun kemarin masih terdapat hujan meskipun tidak sering.
"Kalau untuk kebutuhan memasak dan mandi warga beli air galon. Kalau untuk mencuci ke sungai, " terangnya.
Beberapa pihak seperti BPBD Kabupaten Semarang dan PMI juga sudah melakukan droping air bersih. Sehingga air tersebut nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. (ria/nun/ton)
Editor : Baskoro Septiadi