Pasalnya yang menyiapkan semua makanan untuk warga yang datang adalah warga laki-laki, terutama bapak-bapak.
Dari pagi, warga laki-laki sudah mulai mempersiapkan apa yang nantinya digunakan untuk tradisi Mot Banyu, terutama membuat sajian makanan. Sebagian mereka ada yang memotong daun kudo atau daun kopi untuk sayur. Dan sisanya bagian memasak daging ayam dan kambing.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Semirang Indah sekaligus Kadus Gogik Rohadi Madib mengatakan, yang dilakukan oleh bapak-bapak tersebut sebagai bentuk untuk memuliakan warga perempuan terutama para istri. Karena satu tahun penuh mereka sudah melayani dalam berumah tangga.
"Mereka cukup datang dan menikmati apa yang sudah disajikan oleh bapak-bapak tersebut, " ujarnya.
Mot Banyu merupakan tradisi untuk melestarikan sumber mata air yang sudah mengaliri masyarakat Desa Gogik terutama Dusun Gogik. Tradisi ini dilaksanakan setiap Sabtu Pahing di antara Juni, Juli, dan Agustus.
"Karena di tiga bulan tersebut merupakan awal musim kemarau. Harapannya menjelang musim kemarau dengan kita bersedekah harapan kita air tetap bisa lancar dan menjadi sumber kehidupan, " ungkapnya.
Ada beberapa hal yang menarik dari tradisi yang satu ini, salah satunya dalam pembukaan tradisi menyembelih kambing kendit di aliran sungai.
Kambing kendit yang disembelih merupakan kambing jawa dengan satu warna berbeda yang melingkar di bagian perutnya. Hal tersebut sebagai penggambaran ikatan warga desa yang kuat.
Seperti halnya kehadiran jadah dan hawuk-hawuk yang berasal dari ketan dan gula merah menandakan ikatan warga desa yang diharapkan membuahkan hal yang manis.
"Kemudian terdapat pisang raja temen yang filosofinya masyarakat memiliki keinginan atau kinerja yang temen atau sungguh-sungguh, " jelasnya. (nun/ton) Editor : Agus AP