Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Viral Siswa Bringin Kabupaten Semarang Pindah ke SLB karena Sering Dibully

Agus AP • Jumat, 2 Juni 2023 | 17:05 WIB
Firman siswa yang berada di dalam video viral sedang ngobrol dengan ayahnya. (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
Firman siswa yang berada di dalam video viral sedang ngobrol dengan ayahnya. (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID - Beredar sebuah video tentang anak yang di-bully teman-teman di sekolahnya. Akibatnya siswa tersebut harus pindah ke sekolah luar biasa (SLB).

Dalam video tersebut, tampak seorang laki-laki tua memakai batik dan anak sekolah berseragam sekolah dasar. Kemudian perekam video bertanya dalam Bahasa Jawa, bertanya kepada lelaki tua tersebut. "Sekolah ting pundi Pak (sekolah dimana)?. Lalu dijawab "Ting SLB (di SLB)." "Loh, saget ngomong kok sekolah ting SLB (Loh, bisa bicara kok sekolah di SLB)," jawab perekam.

"Ting SD, diganggu koncone. Pas nulis kertase disuek-suek kancanae (di SD diganggu temannya, pas nulis kertasnya disobek temannya)," kata bocah tersebut. "Boten lapor gurune (tidak lapor gurunya)?" tanya perekam. "Pripun wadul bocahe bejijak nggih mboten ndue kapok (mau lapor gimana, anaknya bandel tidak punya jera)," kata si bapak tua.

Diketahui anak tersebut bernama Muhammad Firmansyah warga Dusun Doplang 2, Desa Pakis, Kecamatan Bringin. Ayahnya bernama Suwadi. Menurutnya, Firman terbilang aktif. Layaknya anak SD, sekolah, bermain, hingga mengaji.

Ia juga tak tahu jika ia dan anaknya saat ini tengah viral di media sosial. Ia mengaku anaknya sekolah di SLB sudah empat tahun. “Sudah sejak kelas dua. Ini sudah kelas lima. Anak nyaman nanti SMP, SMA juga di SLB saja,” jelas ayah dua anak ini.

Ditanya soal alasan pindah SLB, Suwadi mengatakan anaknya kurang pemikiran dibanding teman sebayanya. Firman juga sering lupa. Perundungan yang viral seperti yang disampaikan perekam ditangkis oleh Suwadi. Ia itu justru berterimaksih kepada guru di sekolah anaknya yang dulu.

“Gurunya bilang kondisi Firman, jadi saya tahu kekurangan anak saya. Pindah ke SLB anaknya jadi lebih nyaman. Firman itu apa-apa suka lupa,” lanjutnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang Sukaton Purtomo Priyatmo mengatakan telah menelusurinya. Katon menegaskan tidak ada bully. Saat di SD negeri, Firman masuk tahun ajaran 2018/2019 dengan usia delapan tahun.

"Dia ternyata sulit adaptasi dan sulit menerima materi pelajaran, bahkan selama kelas satu tidak bisa menulis dan membaca. Karena kondisi tersebut, gurunya tidak memberi nilai terhadap siswa tersebut," terangnya.

Karena tidak punya nilai, siswa pun tinggal kelas. Hingga memasuki tahun berikutnya. Diketahui Firman masuk kategori inklusi dan orangtua diberi tahu kondisinya. Pihaknya sudah memberi pemahaman, tetap sekolah negeri atau pindah ke SLB.

"Teman-temannya hanya menyampaikan soal siswa tersebut yang tidak bisa baca tulis, sementara yang lain sudah bisa," ujarnya.

Dia menegaskan bahwa seluruh anak memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Apalagi di sekolah negeri sudah bisa menerima siswa inklusi. Sukaton menyatakan bahwa lingkungan sekolah harus bebas dari tindakan perundungan, terutama yang dilakukan antarsiswa.

"Guru harus bisa menjalankan fungsi kontrol sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan aman, nyaman, dan membahagiakan. Kami juga siap menerima laporan jika memang ada bully di lingkungan sekolah," jelasnya. (ria/ton) Editor : Agus AP
#Desa Pakis #Dusun Doplang 2 #Kecamatan Bringin #di-bully #SLB