Pusaka tersebut dijamas dengan menggunakan air perwitasari dari 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang.
Sebelum dipakai menjamas, air perwitasari dikirab terlebih dahulu dalam Kirab Merti Bumi dari Kecamatan Kaliwungu menuju Rumah Dinas Bupati Semarang di Ungaran.
Sebelum prosesi dilakukan, rombongan pembawa air perwitasari dan gunungan hasil bumi diserahkan kepada Bupati Semarang Ngesti Nugraha. Di mana air perwitasari yang nantinya digunakan untuk menjamas enam pusaka tersebut diserahkan. Bupati Semarang juga melakukan pelepasan burung bersama para pemangku adat.
Selepas penyerahan air perwitasari, prosesi adat jamasan dilaksanakan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang dengan khidmat. Seluruh pemangku adat dan pamong budaya ikut serta menyaksikan dan jamasan pusaka tersebut.
“Jamasan pusaka kali ini sungguh luar biasa, karena disambut masyarakat dengan antusias. Warga antusias untuk memahami simbol-simbol yang adiluhung,” ungkap penjamas pusaka MA Sutikno kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Enam pusaka yang dijamas terdiri atas tiga pusaka berupa tombak dan tiga pusaka berupa keris keluk delapan. Hal ini diharapkan generasi penerus bisa melestarikan kegiatan tersebut dan lebih mengenal peninggalan Ki Ageng Pandanaran. “Tidak hanya memahami simbol-simbol tersebut saja, namun bisa memahami simbol-simbol secara perilaku,” katanya.
Sutikno menambahkan, arti kata pusaka dari kata “soko” yang memiliki arti tiang. Di mana tiang tersebut disimbolkan sebagai pribadi, diri sendiri, dan perilaku. Serta jamasan disimbolkan agar perilaku diri sendiri bisa mendapatkan keberkahan di kemudian hari.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengucapkan terimakasih kepada panitia peringatan hari jadi ke-502 Kabupaten Semarang. Juga seluruh elemen masyarakat yang telah membantu kelancaran kegiatan rangkaian dengan menyumbangkan hasil buminya.
“Dalam Kirab Merti Bumi Serasi, masyarakat banyak memberikan hasil buminya berupa jagung, padi, ketela, dan sayuran sebagai wujud rasa syukur,” jelasnya.
Kirab Merti Bumi Serasi membawa air suci atau tirta perwitasari yang diambil dari 19 sumber mata air di setiap kecamatan. Air suci dikirab dari Desa Pager Kecamatan Kaliwungu dan menginap di Kecamatan Tuntang. Lalu, diarak lagi menuju Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang.
“Tentunya kita semua berharap di tahun 2023 Kabupaten Semarang tetap kondusif, ayem, tentrem, gemah ripah loh jinawi, dan masyarakat semakin sejahtera. Serta pembangunan semakin maju dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Kabupaten Semarang,” harapnya. (nun/aro) Editor : Agus AP