Merti Dusun Gintungan tersebut selalu dilaksanakan setahun sekali tepatnya di bulan Rajab atau Ruwah. Adapun beberapa rangkaian yang dilaksanakan sebelum hari puncak merti dusun. Salahsatunya membersihkan aliran sungai (iriban) dan juga tradisi nyadran dilaksanakan oleh seluruh warga Dusun Gintungan.
"Disini ada beberapa aliran sungai yang kita bersihkan setiap hari sabtu sebelum hari puncak merti dusun, " ujar Sekretaris Desa Gogik, Alis Arif Rahman.
Sebanyak 9 RT yang berada di Dusun Gintungan tumpah ruah di hari puncak dengan menampilkan beberapa kreasi di kirab budaya. Selain itu lembaga-lembaga pendidikan yang ada pun juga ikut serta dalam kirab tersebut.
Kirab budaya tersebut berakhir di area Embung Sukoponco. Namun sebelum itu masing-masing kelompok diberi waktu untuk tampil di depan kepala desa dan warga yang ikut menonton selama lima menit. Bahkan beberapa gunungan yang berisikan sayur-sayuran langsung direbut oleh beberapa warga menonton.
"Terus nanti siang sampai malam dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit," tambahnya.
Setelah kirab usai, warga langsung turun ke embung untum siap-siap membersihkan. Sebelum itu lantunan tahlil dikumandangkan sebagai doa agar kegiatan "jegur blumbang" tersebut lancar. Warga mulai menceburkan diri ke embung setelah lima bebek dilempar sebagai tanda dimulai.
"Nantinya ikan yang didapat dari embung bisa dibawa pulang dan dimasak untuk suguhan waktu menonton wayang, " katanya.
Alis menambahkan kirab budaya yang dilaksanakan ini pertama kali semenjak asanya pandemi Covid-19 di tahun-tahun sebelumnya. Dan kirab budaya diadakan dua tahun sekali.
"Selain itu, warga yang sudah selesai membersihkan embung nanti akan makan bersama dengan sayur gecok urap dan daging bebek putih. Daging bebek putih itu wajib ada, karena menghormati para sesepuh dan pendahulu disini, " pungkasnya. (nun/bas) Editor : Agus AP