Seorang perajin rebana asal Ambarawa, Muhammad Khamim, 66, mengatakan, sepinya permintaan pembuatan rebana telah berlangsung sejak Ramadan tahun lalu. Ia yang sudah berjualan sejak 1994 memutuskan untuk bertahan karena memang amanat orang tua.
"Jadi Ramadan tahun kedua ini juga sama sepi orderan. Ibadah kaum muslim lebih banyak tadarus, tarawih tidak ada kegiatan pentas musik rebana. Karena memang dilarang," ungkapnya Senin (19/4/2021).
Sebelum pandemi, pemesan rebana banyak datang dari Kabupaten Pemalang, Pekalongan, Batang, Boyolali. Sedangkan daerah luar Jawa banyak pembeli dari Sumatera, dan Kalimantan. Untuk rebana baru dipatok Rp 3 juta hingga 6 juta per set. Terdiri dari empat terbang, tiga buah bass, dan kentung. Pihaknya berharap ada kelonggaran dari pemerintah terkait pentas seni. "Sebelum korona ada enam pegawai tapi karena tidak ada orderan sekarang tersisa tiga orang. Pesanan pun juga menurun 70 persen," keluhnya. (ria/zal)
Editor : Agus AP