Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Perajin Rebana Lesu, Orderan Turun 70 Persen

Agus AP • Selasa, 20 April 2021 | 18:15 WIB
Muhammad Khamim sedang membuat rebana di rumah produksi Jalan Sanggrahan RT 1 RW 2 Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Senin (19/4/2021). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
Muhammad Khamim sedang membuat rebana di rumah produksi Jalan Sanggrahan RT 1 RW 2 Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Senin (19/4/2021). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Kebijakan larangan berkerumun selama pandemi berdampak serius bagi perajin alat musik tradisional seperti rebana. Bahkan, di bulan suci Ramadan pun tidak terjadi peningkatan permintaan konsumen.

Seorang perajin rebana asal Ambarawa, Muhammad Khamim, 66, mengatakan, sepinya permintaan pembuatan rebana telah berlangsung sejak Ramadan tahun lalu. Ia yang sudah berjualan sejak 1994 memutuskan untuk bertahan karena memang amanat orang tua.

"Jadi Ramadan tahun kedua ini juga sama sepi orderan. Ibadah kaum muslim lebih banyak tadarus, tarawih tidak ada kegiatan pentas musik rebana. Karena memang dilarang," ungkapnya Senin (19/4/2021).

Sebelum pandemi, pemesan rebana banyak datang dari Kabupaten Pemalang, Pekalongan, Batang, Boyolali. Sedangkan daerah luar Jawa banyak pembeli dari Sumatera, dan Kalimantan. Untuk rebana baru dipatok Rp 3 juta hingga 6 juta per set. Terdiri dari empat terbang, tiga buah bass, dan kentung. Pihaknya berharap ada kelonggaran dari pemerintah terkait pentas seni. "Sebelum korona ada enam pegawai tapi karena tidak ada orderan sekarang tersisa tiga orang. Pesanan pun juga menurun 70 persen," keluhnya. (ria/zal)

  Editor : Agus AP
#Ramadan #Rebana