RADARSEMARANG.ID, KABUPATEN Wonosobo yang ada di Provinsi Jawa Tengah sangat cocok untuk membahas tentang sisi panorama alam yang begitu indah.
Terdapat beberapa gunung yang menjadi primadona para pendaki seperti Sindoro dan Sumbing.
Namun selain itu juga terdapat salah satu gunung yang tidak kalah dengan Gunung Sindoro maupun Gunung Sumbing.
Baca Juga: Panduan Lengkap Pendakian Gunung Sumbing lewat Jalur Butuh, Segini Estimasi Waktunya
Gunung yang satu ini juga sering disebut oleh para pendaki sebagai anak Gunung Sindoro. Lain tidak lain yakni Gunung Kembang.
Gunung Kembang sendiri memiliki ketinggian 2340 mdpl dan memiliki keindahan tersendiri baik sepanjang perjalanan pendakian maupun saat berada di puncak.
Terdapat dua jalur pendakian di Gunung Kembang yakni via Blembem dan via Lengkong.
Jalur pendakian via Blembem merupakan salah satu jalur pendakian di Gunung Kembang yang cukup populer.
Baca Juga: Thriller Skuel Sekawan Limo, Film Horor Berbalut Komedi yang Menggabungkan Mitos Pendakian Gunung
Berikut beberapa informasi tentang jalur pendakian Gunung Kembang via Blembem.
Lokasi Basecamp
Basecamp pendakian Gunung Kembang via blembem sendiri berada di Desa Blembem, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo.
Lokasi basecampnya sendiri sangat mudah untuk dijumpai pasalnya berada di pinggir jalan persis.
Serta dikelilingi perkebunan teh yang indah dan masyarakat biasanya menyebut daerah basecamp itu Dalan Anyar (Jalan Baru).
Jalur Pendakian
Bentang alam di sepanjang jalur pendakian di Gunung Kembang sangat bervariatif mulai dari perkebunan teh, hutan lumur, hingga terdapat sabana di salah satu titik pendakian.
Dalam jalur pendakian di Gunung Kembang terdapat tiga pos utama dan beberapa pos bayang yang bisa digunakan beristirahat para pendaki.
- Dari basecamp Blembem menuju ke Istana Katak membutuhkan sekitar satu jam perjalanan dengan jarak tempuh kurang lebih 1,5 kilometer. Jalur pendakian ini akan melewati bentangan indah perkebunan teh.
- Dari Istana Katak menuju Pintu Hutan Kandang Celeng atau Gerbang 280 membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 700 meter. Gerbang 280 ini merupakan pintu hutan yang merupakan pintu pembatas area perkebunan dan area hutan.
- Dari Gerbang 280 menuju ke Pos Liliput memerlukan waktu kurang lebih 30 menit dengan jarak tempuh sekitar 500 meter. Lama estimasi perjalanan tergantung ritme berjalan para pendaki bisa lebih cepat dan bisa lebih lama. Sebelum sampai Pos Lilipu, pendaki akan menemukan pos bayangan yakni Pos Paleman untuk beristirahat.
- Dari Pos Liliput menuju ke Pos Simpang Tiga memerlukan waktu kurang lebih 20 menit hingga 30 menit. Di sepanjang jalan para pendaki akan disuguhkan hutan yang masih alami dan asri bahkan masih banyak ditemukan spesies tanaman anggrek yang cantik.
- Dari Pos Simpang Tiga menuju ke Pos Akar terbilang paling cepat yakni sekitar 15 menit saja. Namun untuk menuju Pos Akar, treknya akan semakin menanjak dan hutan akan semakin lebat. Selain itu sepanjang perjalan akan banyak dijumpai akar-akar yang menjulur ditanah maupun menggantung.
- Dari Pos Akar menuju ke Pos Sabana 1 akan membutuhkan watu kurang lebih 40 menit. Dari Pos Sabana para pendaki sudah keluar dari area hutan, bahkan kalau beruntung pendaki akan menemukan bunga Edelweiss yang bermekaran.
- Dari Pos Sabana 1 menuju ke Pos Sabana 2 terbilang cukup dekat dan hanya membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 15 menit saja.
- Dari Pos Sabana 2 menuju ke Tanjakan Mesra membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Tanjakan Mesra sendiri menjadi salah satu ikon dari Gunung Kembang karena memiliki kemiringan yang lumayan ekstrem. Dan sering kali membuat para pendaki kelelahan untuk melalui Tanjakan Mesra ini.
- Dari Tanjakan Mesra menuju ke Puncak Gunung Kembang juga kurang lebih 15 menit tergantung dari ritme berjalan masing-masing dari pendaki.
Waspada Adanya Babi Hutan
Jalur pendakian Gunung Kembang via Blembem sendiri terkenal akan keberadaan si Bagas atau babi hutan yang masih sering berkeliaran dan menampakkan diri kepada para pendaki.
Pasalnya area hutan menjadi tempat lingkungan babi-babi tersebut.
Maka dari untuk mengantisipasi hal tersebut, sebaiknya para pendaki menyimpan dengan baik logistik makanan yang dibawanya.
Usahakan jangan membuang sisa makanan ataupun bungkus karena baunya akan mengundang babi hutan untuk datang.
Baca Juga: Gunung Giyanti Mencoba Bangkit dari Serangan Babi Hutan
Pemandangan Yang Memanjakan Mata
Terdapat beberapa spot yang menyuguhkan pemandangan yang indah dan memanjakan mata para pendaki.
Selain beragam trek yang dilalui sepanjang perjlanan, gagahnya Gunung Sindoro bisa dilihat secara dekat keita berada di puncak.
Ditambah lagi dengan adanya kawah mati yang berubah menjadi sabana menjadi salah satu spot berfoto para pendaki.
Tidak hanya itu, pemandangan dari ketinggian yang bisa dilihat dari Tanjakan Mesra juga akan menemani beristirahat.
Di Puncvak sendiri bisa memuat sekitar 20 tenda karena memiliki lahan yang luas.
Pengecekan Sampah
Sebelum melakukan pendakian, nantinya petugas dari basecamp Blembem akan melakukan kroscek barang-barang apa yang akan dibawa termasuk kebutuhan logistik.
Dan nanti pada saat turun, sampah bawaan juga akan didata kembali dan dicocokan sesuai data diawal.
Aturan tentang sampah di Gunung Kembang memang terkenal sangat ketat, namun hal tersebut yang membuat Gunung Kembang menjadi salah satu gunung yang terbersih.
Penerapan aturan sampah yang ketat ini tidak hanya dilakukan di Gunung Kembang saja melainkan di Gunung Sindoro juga melakukan hal yang sama.
Selain itu terdapat denda yang bisa didapatkan oleh para pendaki ketika melanggar peraturan pendakian.
Baca Juga: 6 Fakta Unik Tentang Gunung Kembang di Wonosobo, Nomor 5 Buat Pendaki Harus Waspada
Biaya
Untuk biaya registrasi atau simaksi di Gunung Kembang via Blembem, per orangnya akan dikenakan Rp 25 ribu dan untuk parkir motor Rp 10 ribu.
Kemudian di basecamp Blembem juga menyediakan untuk cek kesehatan yang per orangnya dikenakan Rp 5 ribu saja.
Selain itu, di bascemp Blembem juga menbyediakan jasa ojek hingga pos satu menggunakan truk, namun minimal harus lima sampai empat orang dan biayanya Rp 25 ribu. (nun)
Editor : Tasropi