Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Waduh! Ternyata Ada 35 SD Negeri di Temanggung yang Krisis Murid, Bahkan Satu Sekolah Tidak Ada Pendaftar

Devi Khofifatur Rizqi • Selasa, 14 Juli 2026 | 11:02 WIB
Gilang Arshaka, siswa baru kelas 1 SDN Butuh bersemangat mengikuti pelajaran sekolah tahun ajaran 2026/2027. DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG
Gilang Arshaka, siswa baru kelas 1 SDN Butuh bersemangat mengikuti pelajaran sekolah tahun ajaran 2026/2027. DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG

 

RADARSEMARANG.ID, Temanggung - Fenomena krisis peserta didik baru masih dialami sekolah dasar negeri di Kabupaten Temanggung. Pasalnya, pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, ada 35 SD negeri yang hanya memperoleh kurang dari lima siswa baru. Bahkan, satu sekolah kembali tidak mendapatkan pendaftar sama sekali.

Kepala Bidang Pengembangan SD Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Temanggung, Pamudji Santoso mengatakan, dari total 435 SD negeri di Temanggung, hanya sekitar 20 sekolah yang mampu memenuhi kuota penerimaan siswa baru. Yakni mulai dari 28 siswa sampai 56 siswa.

“Idealnya satu kelas itu 28 siswa. Tapi dari435 SD, ada sekitar 35 sekolah yang menerima murid di bawah lima orang. Ada yang mendapat lima, empat, tiga, dua siswa, bahkan satu sekolah nihil pendaftar," katanya saat diwawancara Selasa (14/7).

Baca Juga: Hanya Dapat Dua Murid Baru, Gilang Tetap Semangat Jalani Hari Pertama Sekolah di SDN Butuh Temanggung

Sekolah yang kembali tidak mendapatkan siswa baru adalah SD Negeri Ketitang di Kecamatan Jumo. Kondisi tersebut bahkan telah terjadi selama dua tahun berturut-turut.

Menurut Pamudji, minimnya jumlah peserta didik bukan disebabkan kualitas sekolah yang rendah. Lantara jumlah anak usia sekolah yang terus menurun di sejumlah wilayah. Terlebih, faktor geografis dan persaingan dengan sekolah lain juga menjadi pemicu minimnya siswa di sekolah negeri.

"Kalau Ketitang memang hanya melayani satu dusun. Setelah kami telusuri memang tidak ada anak usia SD di wilayah itu. Jadi bukan karena kualitas sekolahnya, tetapi memang jumlah penduduknya sedikit," ujarnya.

Selain wilayah pedesaan, kondisi serupa juga terjadi di kawasan perkotaan. Namun penyebabnya berbeda. Di kota, banyak orang tua memilih menyekolahkan anak ke SD swasta, SD Islam Terpadu (SDIT), maupun madrasah ibtidaiyah (MI).

Pamudji mengungkapkan, kondisi sekolah yang minim murid sudah berlangsung sekitar lima tahun terakhir. Selama itu, belum menunjukkan perubahan signifikan.

"Sejak saya di sini sekitar lima tahun, kondisinya memang seperti ini terus. Maksimal jumlah siswa satu sekolah yang sedikit itu totalnya paling 50 anak," katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dindikpora berencana melanjutkan program regrouping atau penggabungan sekolah. Utamanya di wilayah perkotaan yang memiliki sekolah dengan jarak berdekatan.

"Sementara regrouping kami prioritaskan di wilayah kota karena jarak antarsekolah dekat. Kalau daerah seperti Ketitang atau Butuh-Temanggung, lebih sulit karena faktor geografis," jelasnya.

Baca Juga: Update Transfer Liga 2 2026/2027, Persaingan Kian Sengit AdaPSIS Semarang, PSMS Medan, dan Klub Super League Berebut Stefano Lilipaly

Pamudji menyebut, dari sekitar 12 ribu kuota siswa SD negeri yang disediakan tahun ini, baru sekitar 6 ribu kursi yang terisi. Selain akibat menurunnya angka kelahiran, banyak calon siswa memilih bersekolah di lembaga pendidikan swasta.

Meski masa SPMB telah berakhir, Dindikpora masih memberikan kesempatan bagi anak yang belum terdaftar. Sebab, di sejumlah wilayah masih ditemukan orang tua yang baru mendaftarkan anak setelah hari pertama masuk sekolah.

"Untuk SD kami tidak bisa terlalu saklek. Masih ada masyarakat yang baru mendaftarkan anaknya saat sekolah sudah mulai, sehingga tetap kami fasilitasi agar bisa masuk ke sistem," tandasnya. (dev)

Editor : Baskoro Septiadi
spmb 2026 Dindikpora Temanggung Krisis Peserta Didik Baru temanggung sd negeri