RADARSEMARANG.ID, Temanggung – Tim forensik melakukan autopsi terhadap AEH, 17, salah satu dari empat korban meninggal dunia dalam tragedi glamping di kawasan wisata Kledung, Kabupaten Temanggung.
Proses autopsi ini dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kematian empat wisatawan sekeluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang tersebut.
Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra, mengatakan, autopsi dilaksanakan pada Kamis (28/5) mulai pukul 08.00. Lalu selesai pada siang hari.
Dari pemeriksaan awal dokter forensik, terdapat dua dugaan kuat penyebab kematian.“Berdasarkan keterangan awal dokter yang memeriksa, diduga kematian ini ada dua kemungkinan, yaitu keracunan makanan dan keracunan gas hasil pembakaran. Namun kami masih menunggu hasil lengkap dari pemeriksaan laboratorium forensik,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (29/5).
Komang menyebut, AEH dipilih sebagai satu-satunya korban yang diautopsi atas persetujuan keluarga. Menurut Komang, penyidik sebenarnya mengusulkan autopsi menyeluruh terhadap seluruh korban. Namun, pihak keluarga keberatan sehingga akhirnya hanya satu jenazah yang diperiksa secara mendalam.
“Dari pihak keluarga menentukan satu korban yang diautopsi, yakni AEH. Korban ini dipilih karena merupakan yang paling muda dan dalam kondisi fisik paling prima karena diketahui seorang atlet,” jelasnya.
Baca Juga: Gas Karbon Monoksida Diduga Jadi Penyebab Meninggalnya 4 Wisatawan Sekeluarga di Temanggung
Polisi berharap hasil autopsi terhadap AEH dapat menjadi kunci untuk mengungkap penyebab kematian seluruh korban.
Selain autopsi, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, mulai dari satu set kompor gas portable, tungku tanah liat untuk membakar briket, sisa makanan berupa daging, sosis, jagung, tahu, nasi putih, selada, hingga lima handphone berbagai merek.
Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), kompor gas portable ditemukan berada tepat di teras atau mulut tenda. Saat ditemukan, regulator masih terpasang dalam kondisi off, namun gas diketahui sudah habis.
Temuan tersebut memperkuat dugaan sementara adanya paparan gas karbon monoksida (CO) hasil pembakaran barbeque yang masuk ke dalam tenda.
“Posisi pintu tenda saat ditemukan tertutup rapat, begitu juga ventilasi kanan dan kiri. Diduga gas hasil pembakaran terperangkap di dalam dan terhirup korban saat mereka beristirahat,” kata Komang.
Meski demikian, polisi belum menutup kemungkinan penyebab lain, termasuk keracunan makanan. Namun dari hasil pemeriksaan awal di lokasi, petugas tidak menemukan bekas muntahan yang umumnya menjadi gejala keracunan makanan.
Dari pemeriksaan dokter, keempat korban diperkirakan telah meninggal sekitar 8 hingga 12 jam sebelum ditemukan pada pukul 15.45 WIB. Saat ditemukan, tubuh korban telah dalam kondisi kaku.
Baca Juga: 4 Jenazah Sekeluarga yang Tewas di Kawasan Wisata Posong Temanggung Tiba di Rumah Duka
Polisi juga memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
Saat ini, Satreskrim Polres Temanggung masih menunggu hasil final autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik dari Polda Jawa Tengah untuk memastikan penyebab pasti tragedi yang menewaskan empat anggota keluarga tersebut. (dev)
Editor : Baskoro Septiadi