Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Cerita Kepala SD Muhammadiyah Temanggung Menolak Program MBG dan Trauma Dua Kali KLB

Devi Khofifatur Rizqi • Rabu, 25 Februari 2026 | 11:33 WIB

 

Kepala SD Muhammadiyah Temanggung, Triana Widiastuti.
Kepala SD Muhammadiyah Temanggung, Triana Widiastuti.

RADARSEMARANG.ID, Temanggung - Buntut menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjamur dan tidak layak konsumsi, membuat SD Muhammadiyah Temanggung bertindak tegas.

Sekolah yang berada di Jalan Mujahidin, Nomor 26, Giyanti, Kauman, Kecamatan Temanggung, memutuskan menolak program MBG per tanggal 24 Februari 2026.

Diketahui, sekolah ini sebelumnya menerima MBG dari SPPG Giyanti sejak tahun ajaran baru, Juli 2025.

 Baca Juga: Ramai Menu 'Kering' MBG Selama Ramadan, Orang Tua di Semarang Pilih Diberi Bahan Mentah

Keputusan diambil setelah terjadi dua kejadian luar biasa (KLB) yang menimpa peserta didik, serta banyaknya keluhan dari wali murid.

Kepala SD Muhammadiyah Temanggung, Triana Widiastuti, mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek. Terutama keselamatan dan kenyamanan siswa.

Ia telah mempertimbangkan banyak hal untuk mengambil kebijakan ini. Terlebih, banyak wali murid yang kecewa dan menolak program MBG untuk anaknya.

“Kasus ini sudah yang kedua kalinya. Kemudian dari masukan wali murid dan sebagainya, kami mengambil kebijakan untuk kenyamanan sekolah, kenyamanan warga sekolah, dan kenyamanan anak-anak dalam belajar,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (25/2).

 Baca Juga: Lakukan Investigasi Soal Temuan Menu MBG Berjamur, Sekda Temanggung Minta Quality Control Diperketat

Triana menegaskan, penolakan terhadap program MBG akan berlaku seterusnya. Keputusan tersebut juga untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

“Daripada ini membuat kepercayaan masyarakat kepada sekolah kami berkurang, maka ini keputusan yang kami ambil untuk menghentikan MBG di sekolah ini," tegasnya.

Triana membeberkan, kasus terbaru program MBG di sekolahnya, terjadi pada Senin, 23 Februari 2026.

Itu bertepatan dengan awal masuk sekolah di bulan Ramadan. Menu yang dibagikan berupa roti, kurma, telur, dan susu.

Namun, kondisi makanan ditemukan tidak layak konsumsi. Bahkan, ia mendapat laporan dari wali murid bahwa menu roti berjamur, kurma berulat, susu kedaluwarsa, serta telur rebus yang berbau.

 Baca Juga: Orang Tua Siswa di Temanggung Keluhkan Menu MBG Berjamur, Ada Siswa Muntah hingga Masuk IGD

“Rotinya roti basah. Luarnya bagus, bentuk luarnya bagus, tapi dalamnya sudah berjamur semua. Kemudian kalau susunya itu memang sudah kecut (rasanya)," bebernya.

Penampakan menu MBG yang diterima siswa SD Muhammdiyah Temanggung pada Senin 23 Februari 2026.
Penampakan menu MBG yang diterima siswa SD Muhammdiyah Temanggung pada Senin 23 Februari 2026.

Kemudian, sekolah segera mengantisipasi dengan mengimbau siswa tidak mengonsumsi makanan tersebut. Kendati demikian, ada beberapa siswa yang sudah terlanjur memakan.

“Kalau yang terlaporkan ke kami memang hanya tiga siswa. Ada yang muntah-muntah. Yang melaporkan itu ada dari kelas 1 dan kelas 5. Ada juga yang sempat masuk IGD," jelas Triana.

Kendati begitu, saat ini, kondisi siswa SD Muhammdiyah Temanggung, masih dalam observasi.

Pihak sekolah juga menyebar link formulir kepada wali murid, guna mengetahui kondisi siswa yang mengalami keluhan mual dan muntah.

 Baca Juga: Jadwal Laga Terakhir Fase Reguler, Ini Skenario Lolos Final Proliga 2026

Triana mengaku, kejadian tersebut menimbulkan trauma mendalam bagi pihak sekolah.

“Terus terang saya trauma. Saya tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi di sekolah. Alhamdulillah kemarin anak-anak sudah di rumah. Kalau itu terjadi di sekolah, pasti sorotannya luar biasa,” katanya.

Kejadian serupa, lanjut Triana, sudah pernah terjadi pada September 2025. Saat itu, makanan yang diterima berbau basi.

Menu saat itu berupa nasi serta telur santan dan beberapa sayur. Sehingga tidak dikonsumsi siswa.

“Pas kejadian awal itu kita diselamatkan karena kita sudah tahu itu bau. Anak-anak enggak mau makan. Akhirnya kita kembalikan (ke dapur SPPG)," ujarnya.

Sejak saat itu, sekolah sempat menghentikan sementara program tersebut dan meminta pergantian dapur penyedia. Namun, setelah beroperasi kembali, kasus serupa kembali terjadi.

Triana mengatakan, banyak wali murid menyampaikan keberatan terhadap program tersebut. Meski belum semuanya dalam bentuk surat resmi.

“Dari WA yang masuk ke kami itu sudah banyak wali murid yang tidak mau menerima MBG. Jadi bagi kami, kalau sekolah tetap memaksa menerima ini, kemudian orang tua sudah tidak mau menerima, ya kami juga tidak akan memaksakan,” katanya.

 Baca Juga: Jafar-Felisha Bidik Semifinal di Debut All England 2026

Menurutnya, karena siswa dan orang tua adalah penerima manfaat, maka sekolah harus menghormati keputusan mereka.

“Yang menerima manfaat kan mereka, bukan sekolah. Ketika yang menerima manfaat saja sudah tidak mau menerima, kami juga tidak akan memaksakan,” tegas Triana.

Sejak program MBG berjalan pada Juli 2025, SD Muhammadiyah Temanggung, telah melakukan pengawasan saat menerima makanan. Bahkan, sekolah memiliki tim khusus untuk mengecek sebelum makanan dibagikan.

Namun, keterbatasan membuat pengawasan tidak bisa maksimal. Dalam beberapa kesempatan, makanan bahkan dikembalikan dalam jumlah besar.

“Kadang yang dikembalikan sampai 200 ompreng,” ungkapnya.

Dikatakan, menu yang diberikan dinilai kurang sesuai dengan selera anak-anak dan kurang bervariasi.

Triana mencontohkan, menu telur pernah diberikan hingga empat hari berturut-turut. Lalu menu wortel diberikan ke siswa selama satu minggu penuh.

 Baca Juga: Fadhilah Keutamaan Salat Tarawih Malam ke 9 Ramadan 2026, Pahala Seperti Beribadah Kepada Allah Sebagaimana Ibadahnya Para Nabi

“Itu saya sampai komplain juga ke dapurnya. Kalau stoknya masih, distop dulu. Jangan setiap hari wortel terus, anak-anak juga bosan,” katanya.

Dengan berbagai kejadian tersebut, sekolah akhirnya memutuskan menolak program MBG secara permanen.

“Kelihatannya kita akan seterusnya. Karena dari wali murid juga sudah menyampaikan seperti itu,” ujarnya.

Triana menegaskan, program tersebut sebenarnya baik. Namun, keselamatan siswa tetap menjadi prioritas utama.

“Program bagus, tapi kalau kemudian mengganggu kesehatan anak-anak, itu yang tidak tega. Apalagi kalau sampai sakit,” tandasnya.

Saat ini, SD Muhammadiyah Temanggung memiliki total 808 siswa, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Pihak sekolah berharap kejadian serupa tidak terulang kembali, baik di sekolahnya maupun di sekolah lain. (dev)

Editor : Baskoro Septiadi
#siswa keracunan #Mbg #program mbg #tolak mbg #kebijakan sekolah #temanggung #Menu MBG Basi #Siswa #SPPG #Menu MBG Berulat #sd muhammadiyah