RADARSEMARANG.ID, Temanggung - Tradisi Nyadran Jumat Kliwon kembali digelar di Dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jumat (23/1) pagi.
Denting doa dan kirab budaya menyatu dalam ritual dua tahunan yang sarat makna spiritual, sosial, dan sejarah.
Tradisi ini bukan sekadar ritual adat. Tetapi penanda kuat hubungan manusia dengan rasa syukur, sejarah, dan kebersamaan sosial.
Acara dimulai dengan arak-arakan gunungan hasil bumi dan kambing yang akan disembelih, serta pusaka keramat.
Puncak nyadran ditandai dengan rebutan gunungan. Kemudian dilanjutkan penyembelihan kambing secara massal. Tahun ini, ada sebanyak 94 ekor kambing.
Kambing-kambing tersebut berasal dari warga maupun pendatang yang memiliki nazar. Nazar yang terkabul diwujudkan dalam syukuran bersama di kompleks makam Mbah Kiai Kramat dan Mbah Yudho Kusumo, tokoh yang dipercaya sebagai cikal bakal tradisi tersebut.
Kepala Dusun Pete, Arif Fatoni, menuturkan, tradisi nyadran telah berlangsung jauh sebelum generasinya lahir. Kurang lebih sebelum era kemerdekaan. Tradisi ini turun temurun dilestarikan warga Dusun Pete.
"Saya usia 44 tahun, sejak kecil tradisi ini sudah ada. Bahkan kemungkinan sudah ada sejak sebelum kemerdekaan,” ujarnya.
Baca Juga: Film Horor Lintas Budaya Dowajuseyo Siap Hantui Bioskop Indonesia Mulai 29 Januari 2026
Makna Nyadran berakar dari kisah Mbah Yudho Kusumo, bangsawan Mataram yang menetap dan membaur dengan warga setempat.
Arif menceritakan, kala itu, tradisi bermula saat seekor kerbau terperosok ke sebuah lubang yang kini dikenal sebagai makam Mbah Kiai Kramat.
Selama tiga hari kerbau tak bisa dikeluarkan. Setelah lokasi tersebut dirumat dan dibersihkan dengan penuh rasa hormat, kerbau itu keluar dengan sendirinya.
“Dari peristiwa itu muncul rasa syukur yang luar biasa. Kerbau kemudian disembelih dan dibagikan. Dari situlah tradisi syukuran ini berkembang, yang sekarang menjadi nyarran dengan penyembelihan kambing,” jelas Arif.
Selain penyembelihan, tradisi juga dimeriahkan dengan Kirab Parang Jaya Kusumo dan Tumpeng Argobugo.
Itu simbol penghormatan terhadap leluhur sekaligus pengingat nilai keberanian, keteguhan, dan kesuburan tanah.
Menariknya, Nyadran Jumat Kliwon tidak hanya diikuti warga lokal. Sekitar 40–60 persen peserta berasal dari luar desa. Mereka datang untuk berdoa, menunaikan nazar, sekaligus mempererat ikatan batin dengan tradisi.
Baca Juga: Tak Ingin Makin Terpuruk di Championship, PSIS Semarang Kembali Datangkan Pemain Anyar Wajah Lama
"Tidak harus warga sini. Siapa saja boleh ikut. Bahkan ada warga dari desa lain yang nazar dan ikut menyembelih kambingnya di sini,” kata Arif.
Usai kambing disembelih, kemudian dimasak bersama di komplek makam leluhur. Kepulan asap tersebar ke setiap penjuru dusun. Warga turut bergotong royong dan guyub rukun.
Sementara Wakil Bupati Temanggung, drg. Nadia Muna, menyebut, nyadran sebagai warisan budaya di Kabupaten Temanggung yang tak ternilai.
Menurutnya, tradisi ini adalah wujud nyata rasa syukur atas nikmat Tuhan sekaligus pengingat agar manusia selalu mengamini doa-doanya.
“Nyadran adalah cara kita mengingat nikmat Allah dan menjaga hubungan spiritual dengan leluhur. Pemerintah Kabupaten Temanggung mengapresiasi masyarakat Desa Kembangsari yang konsisten nguri-uri budaya,” ujarnya.
Nadia berharap, tradisi Nyadran Jumat Kliwon terus lestari dan menjadi catatan sejarah bagi generasi mendatang.
"Ini bukan sekadar acara adat, tetapi identitas dan memori kolektif yang harus dijaga bersama,” tandasnya. (dev)
Editor : Baskoro Septiadi