Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sosok Lydia Apririasari Penggemar dan Peneliti Ular Asal Temanggung, Punya Lebih 200 Spesimen dari Berbagai Famili di Indonesia

Devi Khofifatur Rizqi • Minggu, 8 Juni 2025 | 18:46 WIB

 

Lydia Apririasari bermain dengan ular jenis Phyton bernama ulem. DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG
Lydia Apririasari bermain dengan ular jenis Phyton bernama ulem. DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.ID - Lydia Apririasari, salah satu sosok langka. Ia adalah penggemar dan peneliti ular di Temanggung.

Bahkan mendirikan pusat studi mengenai hewan melata tersebut, bernama Tulala Snakes Research Center.

Cik Lydia, sapaan akrab Lydia Apririasari, tertarik pada ular ketika hendak melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) di bangku kuliahnya, di Universitas Duta Wacana Yogyakarta. 

Saat itu, dosennya menyoroti skripsi sebagian besar mahasiswa Biologi, yang disebut hanya tentang air.

Secara kebetulan, Lydia bertemu dengan seorang pengamat ular bernama Jamzuri, yang hendak menggelar pameran.

Singkatnya, Lydia berkunjung ke kediaman Jamzuri. Di sana terdapat banyak jenis ular. Dari situlah, Lydia mendapat ide untuk meneliti ular.

"Tapi pas saya sodorkan penelitian tentang ular malah dosennya bingung. Jadi akhirnya disetujui dan dapat dosen pembimbing dari UGM," kenang Lydia ketika ditemui di rumah di Parakan, Temanggung.

Berbagai spesimen ular yang ada di rumah Lydia Apririasari di Parakan Temanggung. DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG
Berbagai spesimen ular yang ada di rumah Lydia Apririasari di Parakan Temanggung. DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG

Setelah lulus kuliah, Lydia meneruskan kegemarannya belajar tentang ular. Ia berpikir menekuni secara serius studi tentang hewan melata tersebut.

Hingga akhirnya, Lydia mendirikan pusat studi bernama Tulala Snakes Research Center.

Tulala ini memiliki beragam kegiatan. Termasuk mengedukasi masyarakat hingga karyawan perusahaan tambang. Ia juga memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah.

"Dari situ juga mulai dikenal lebih banyak orang. Banyak juga anak TK yang datang ke rumah untuk belajar tentang ular. Tapi ngomongnya tidak tinggi-tinggi karena menyesuaikan audiensnya," ujarnya.

Saat koran ini berkunjung ke kediaman Lydia, terlihat ratusan botol kaca berisi spesimen ular yang berjejer rapi. Sepintas, isi botol-botol itu seperti manisan.

Jenis ular itu beragam famili. Ada famili Elapidae, Hydrophidae, Viperidae, Crotalidae, Colubridae, Boidae, Acrochordidae, Typhlopidae, dan masih banyak lagi. Lydia juga memiliki spesimen dari Amerika.

Selain ular, terdapat kadal, biawak, dan beberapa jenis reptil lainnya. Hewan yang dipelihara Lydia dirawat dengan telaten.

"Di sini perwakilan seluruh famili ular ada. Saya mengumpulkan sejak 1998. Sekarang sudah lebih 200-an spesimen untuk ular. Di belakang namanya ada keterangan detilnya," jelasnya.

Dari ketekunannya ini, Lydia mendapat berbagai penghargaan. Terbaru ia memecahkan rekor MURI identifikasi 100 ular pada 2024. Lalu pada 2018, ia menerima penghargaan Kalpataru.

Selain spesimen ular, ia juga merawat berbagai jenis ular lainnya. Termasuk ular phyton dan beberapa ular titipan teman-temannya. Bahkan, ia bisa berkomunikasi dengan hewan jenis reptil yang ada di rumahnya.

Saat ini, Lydia sedang fokus memberikan penyuluhan-penyuluhan. Berupa rescue atau pertolongan saat warga mendapati ular di rumah atau lingkungannya. Ia juga ingin mengembangkan tim relawan etnoserpentologi.

"Jadi tim relawan itu membantu warga dengan metode tradisional manakala terkena gigitan ular. Masih ingin mengembangkan tim relawan ini karena penting. Tim ini juga gratis secara sukarela," harap Lydia.

Menurutnya, ular paling panjang yang pernah dimiliki jenis phyton bernama donat. Panjangnya 4,5 meter.

Ia membagikan tips saat merawat ular. Yang paling penting kebersihan kandang dan kesehatan ular.

"Minuman dan makanan ular saya tidak sembarangan. Ada yang suka tikus putih juga daging ayam. Ngasih makan biasanya 3 minggu sekali," katanya sambil terkekeh. (dev/lis)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#peneliti #ular #Lydia Apririasari