Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Monumen Bambang Sugeng, Penghormatan Terhadap Mayor Jenderal Indonesia Welas Asih Asal Temanggung yang Dihormati Jepang

Aby Genta Putra Prasetya • Sabtu, 21 September 2024 | 15:18 WIB
Monumen Bambang Sugeng dan Potret Bambang Sugeng Mayjen Asal Temanggung
Monumen Bambang Sugeng dan Potret Bambang Sugeng Mayjen Asal Temanggung

RADARSEMARANG.ID - Perang dunia kedua adalah salah satu konflik paling mematikan yang pernah dialami oleh umat manusia.

Namun, ditengah perselisihan paling amoral tersebut pun masih tersisa rasa kemanusiaan dan tauladan yang terkisahkan dalam berbagai kisah.

Di Indonesia, perang kemerdekaan menjadi titik balik peradaban bangsa Nusantara dalam menjadi negara yang berdaulat dan bermartabat.

Salah satu sifat teladan yang ditunjukkan oleh seorang insan bangsa bernama Mayjend Bambang Sugeng patut diapresiasi karena kiprahnya menjaga negara namun tetap memanusiakan pihak musuhnya.

Bambang Sugeng merupakan seorang prajurit TNI asal Temanggung yang pernah memimpin pasukannya saat Agresi Militer Belanda I (1947) dan Agresi Militer Belanda II (1948) di Yogyakarta.

Pasukan milik Bambang Sugeng diketahui dengan gagah berani merangsek kedalam zona musuh meskipun harus kehilangan sebanyak 3500 orang dalam medan pertempuran di Kali Progo melawan sekutu yang dibonceng NICA.

Keberaniannya tertulis dalam puisi yang ia ciptakan serta kini dipahat sebagai simbol monumen yang menggambarkan perjuangannya bersama para pejuang lain dalam perang front Jawa paska kemerdekaan.

"Aku rela, aku tak kecewa, gugur demi nusa bangsa" terukir dalam monumen yang diabadikan untuknya dan dapat disaksikan hingga kini, bahkan selanjutnya oleh generasi Indonesia sehingga nama beliau tetap harum sepanjang masa.

Mayjend Bambang Sugeng meskipun namanya tak seterkenal itu bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, namun sosoknya begitu diingat oleh masyarakat Jepang.

Hal itu dapat dibuktikan keberadaan sebuah prasasti penting karya pasukan Jepang di Monumen Bambang Sugeng yang terlukiskan dengan abadi dengan huruf kanji Jepang.

Prasasti tersebut bertuliskan " Wampo Daiwa Daigetzu" yang memiliki arti " Seluruh Dunia Adalah Keluarga". Bentuk penghargaan ini merupakan penghormatan kepada sifat Mayjend Bambang Sugeng yang menjunjung tinggi belas kasih.

Dikisahkan bahwa paska kemelut perang, pihak republik menawan banyak sekali prajurit Jepang. Di tangan kepemimpinan Mayjend Bambang, para tawanan ini diperlakukan dengan sangat amat baik.

Baca Juga: Mengenal Tugu Ir Lamminga, Landmark yang Menjadi Cikal Bakal Berdirinya Monumen Yos Sudarso di Kota Tegal

Berbeda dengan kebanyakan para tahanan perang di daerah lain, para tawanan yang dibawahi Mayjend Bambang Sugeng ini tidak merasakan ketakutan ataupun nyawanya terancam, Mayjend Bambang memperlakukan mereka semua dengan manusiawi.

Saking baiknya jiwa kemanusiaan yang ditunjukkan oleh Mayjend Bambang, hingga kini banyak dari para keluarga maupun eks tawanan perang yang kerap melakukan kunjungan rutin ke Monumen Bambang Sugeng jauh-jauh dari Jepang ke Temanggung.

Source: Paguyuban Sugeng Jogja, Perpustakaan STHM

Editor : Baskoro Septiadi
#Mayor Jenderal Asal Temanggung #Monumen Bambang Sugeng #Monumen Bambang Sugeng Temanggung #Mayor Jenderal Bambang Sugeng #Pahlawan Welas Asih Dihormati Jepang