RADARSEMARANG.ID, Temanggung - Masjid Jami Wali Limbung di Dusun Kauman Desa Medari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung memiliki tradisi unik yaitu nazar.
Salah satunya, masjid yang konon didirikan Wali Limbung ini kerap menjadi tempat nazar bagi orang-orang yang memiliki hajat tertentu.
Takmir Masjid Wali Limbung, Vier Adi Hartono menjelaskan, menurut cerita Wali Limbung adalah seorang ulama yang memiliki nama asli Syekh Abdullah Anwas.
Ia adalah salah satu pengikut Pangeran Diponegoro.
Wali Limbung memiliki peran sebagai salah satu panglima perang di wilayah Parakan.
Kemudian ia mendapatkan tugas berdakwah di wilayah Parakan, lalu mendirikan masjid yang sekarang dikenal Masjid Wali Limbung.
Cerita versi lain, Masjid Jami Wali Limbung tidak terlepas dari dakwah Wali Songo di tanah Jawa.
"Dalam berdakwah di wilayah Jawa, Wali Songo dibantu oleh wali-wali lain, salah satunya adalah Wali Limbung," katanya Vier Adi Nugraha.
Perihal asal-usul diceritakan, Wali Limbung ini berasal dari Jeddah, Arab Saudi. Konon datang ke Jawa karena atas permintaan Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik.
Dijuluki Wali Limbung, karena bermukim di Desa Klimbungan.
Adi Nugraha mengatakan, Masjid Wali Limbung selesai dibangun pada Jumat Pahing. Itulah sebabnya adanya tradisi, bernazar di Masjid Wali Limbung setiap Jumat Pahing. Biasanya dilakukan oleh orang yang mempunyai hajat besar.
Apabila harapan dan hajatnya terkabul, maka akan bersedekah untuk pembangunan Masjid Wali Limbung.
"Penazar masyarakat umum. Baik warga temanggung atau luar temanggung. Setelah menyampaikan hajatnya dan nazarnya, kemudian didoakan oleh Imam Masjid. Lalu diberi air sumur peninggalan Wali Limbung," tuturnya. (din/bud)
Editor : Baskoro Septiadi