Kopi Temanggung memang juara. Terbukti di ajang perlombaan tingkat dunia, meraih berbagai medali penghargaan. Jenis kopi arabika dan robusta tumbuh subur dengan cita rasa yang khas dan unik karena ditanam bersanding dengan tembakau.
Di Jawa Tengah, sebanyak 53 persen produksi kopi berasal dari Kabupaten Temanggung. Luas tanaman kopi robusta 12.075 hektare dan arabika sekitar 2.000 hektare. Tersebar di Kecamatan Gemawang, Kledung, Parakan, Kandangan, Kaloran, Ngadirejo.
Kopi Temanggung telah mendapat pengakuan keunggulan cita rasa dalam ajang lomba kopi di tingkat dunia. Sebut saja ada Mustofa dari Dusun Kemloko, Desa Soborejo, Kecamatan Pringsurat dengan nama merek Kentheng Jaya Coffee meraih medali emas di ajang Agency for Valorization of Agricultural Product (AVPA) di Paris Perancis tahun 2019. Ajang ini diikuti 170 produsen kopi seluruh dunia.
Kemudian, Ery warga Dusun Maluwing, Desa Gesing, Kecamatan Kandangan, dengan nama produk Ery Coffee meraih perunggu di AVPA di Paris Perancis tahun 2018.
Prestasi tersebut semakin mengukuhkan bahwa kopi Temanggung memang unggul.
Kepala Bappeda Kabupaten Temanggung Dwi Sukarmei mengatakan potensi kopi memang luar biasa. Pihaknya berupaya mengembangkan melalui berbagai kegiatan.
Antara lain, forum rembug klaster, rakor peningkatan kelembagaan klaster, pelatihan ekspor kopi bekerja sama dengan FTA. Kemudian pengembangan usaha agroindustri kopi Temanggung sebagai penyangga kontribusi UMKM ekspor Jawa Tengah, support festival petik merah kopi.
Tidak hanya itu, digelar pula pelatihan kopi oleh Prof. Sri Mulato dari Coffee and Cocoa Training Center Solo. Lalu pameran dalam berbagai ajang promosi di dalam dan luar kabupaten, pembuatan katalog klaster kopi.
Serta penyelenggaraan silaturahmi rasa kopi temanggungan, dengan pembagian 1000 cup kopi gratis kepada masyarakat pada hari kopi internasional.
“Karena Kopi Temanggung telah go international, kami juga memanfaatkan bungkus kopi untuk ajang promosi wisata Temanggung. Jadi, kami memasang foto dan link barcode suatu objek wisata di bungkus belakang kopi,” jelas Dwi Sukarmei.
Dalam mengembangkan Kopi Temanggung, pihaknya menerapkan beberapa strategi. Yakni, mendukung petani dengan pelatihan dan sumber daya untuk meningkatkan hasil. Juga pemberian pupuk dan bibit berkualitas, peningkatan infrastruktur pertanian dan irigasi, peremajaan tanaman.
Untuk meningkatkan kualitas, pihaknya melakukan pelatihan dalam pemrosesan dan pengeringan biji kopi. Kemudian pengembangan metode pengepul, pengupas, dan penggilingan yang lebih baik, serta pemantauan mutu dan sertifikasi kopi.
“Untuk pemasaran dan promosi, kami berusaha membangun merek kopi lokal yang kuat, memasarkan kopi ke pasar lokal dan ekspor. Dan menggunakan platform online dan media sosial untuk meningkatkan visibilitas,” terangnya.
Salah satu hasil pelatihan, yaitu ekspor kopi robusta green bean dari Desa Kwadungan, Kecamatan Parakan, ke Iran, sebanyak 18 ton senilai Rp 700 juta. (din/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo