Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Mahasiswi Temanggung yang Terjebak Perang Sudan, Ada yang Sudah Tulis Surat Wasiat

Agus AP • Selasa, 2 Mei 2023 | 17:02 WIB
Melinda Retno Diningrum bersama kedua orang tua dan adiknya menceritakan pengalamannya terjebak perang Sudan. (ADDIN ALFATH/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Melinda Retno Diningrum bersama kedua orang tua dan adiknya menceritakan pengalamannya terjebak perang Sudan. (ADDIN ALFATH/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Temanggung - Melinda Retno Diningrum salah satu mahasiswi yang dievakuasi dari Sudan. Warga Dusun Kuwaton, Desa Purwodadi, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung ini tercatat sebagai mahasiswi  jurusan Syari’ah Islamiyah Fakultas Syariah wal Qonun International University of Africa.

Melinda Retno Diningrum berhasil dievakuasi setelah selama 9 hari terjebak di tengah perang Sudan. Melinda dan rekannya hidup dalam situasi mencekam yang tidak pernah disangka akan terjadi. "Semua panik, karena tidak pernah terjadi sebelumnya," ujar Melinda saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya, Senin (1/5).

Dikatakan, peperangan antara tentara Sudan dengan paramiliter Rappid Support Forces (RSF) terjadi di ibu kota Sudan, Khartoum itu terjadi sejak Sabtu (15/4). Suara tembakan tiba-tiba mengagetkan Melinda yang masih beraktivitas di asrama kampus.

Ketua Persatuan Pelajar Putri Indonesia (PPPI) Sudan ini menceritakan, suara ledakan pertama terjadi sekitar pukul 09.28. Dia tidak mengetahui apakah ledakan tersebut bersumber dari rudal atau bom. Yang jelas, ledakan tersebut terdengar sangat keras diikuti suara tembakan-tembakan.

“Ternyata itu adalah serangan. Tapi saya tidak tahu yang pertama menyerang itu apakah tentara Sudan atau paramiliter. Karena imbauan dari KBRI, kita jangan terlalu ikut campur, yang penting kita menyelamatkan diri dan mengikuti protokol,” terang putri ketiga pasangan Muhcholil dan Nurkhayati ini.

Setelah ledakan pertama, teman-temannya langsung mendapat imbauan agar segera turun dari asrama kampus berlantai 4. Dia dan mahasiswa Indonesia lain langsung turun dan berkumpul di lapangan.

Di sana, mereka menerima imbauan untuk mengambil berkas-berkas penting. Karena di luar negeri berkas seperti paspor sangat penting. Para mahasiswa kemudian mengambil paspor dan barang secukupnya.

“Setelah itu, kami langsung dibawa ke auditorium kampus. Di sana ada pemberitahuan bahwa ada serangan. Kami harus tenang karena Insya’ Allah para tentara yang sedang berperang tidak akan menyerang warga sipil,” cerita mahasiswi semester 7 yang kini tinggal skripsi ini.

Baku tembak tidak pernah berhenti. Helikopter lewat di atas blok rumah. Juga pesawat jet dan suara hantaman rudal. Ada juga tembakan peluru nyasar ke perumahan warga. Bahkan ada tempat tinggal temannya asal Indonesia yang terkena peluru nyasar.

Namun tidak sampai menelan korban. Dia bersyukur karena sampai saat ini temannya selamat, dan semua WNI juga. Hanya saja, yang terluka cukup banyak. Pada hari kedua perang, dia mengira bahwa perang hanya berlangsung satu atau dua hari, dan mereka merasa aman.

“Kami mengira setelah evakuasi itu aman dan perang bakal selesai. Tapi ternyata malah semakin menjadi-jadi. Serangannya lebih sering. Di jam 12 malam ke atas, saat waktunya istirahat serangannya malah semakin sering, dan suaranya semakin dekat ke pemukiman kami di daerah Arkawid dan Makmuroh,” ungkapnya.

Dia dan lainnya semakin panik dan meminta bantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). KBRI mengimbau untuk tetap di rumah, jangan dekati jendela. Kalau ada suara tidak boleh keluar. Bantuan dari KBRI akan segera datang. Karena KBRI harus mengikuti prosedural dari pemerintah.

Pada hari kelima, Melinda dan teman-temannya sudah mulai tidak tenang. Sebab, serangan-serangan tersebut mengakibatkan listrik padam dan aliran air bersih mati.

“Di Sudan, air itu menyambung dengan listrik. Kalau listrik mati, air juga mati. Ketika pusat listrik kena, air jadi mati. Di daerah kami, Arkawi, tidak ada air kurang lebih selama 4 hari. Saat itu, kita tidak bisa mandi.  Air diprioritaskan untuk masak, karena sedang berpuasa. Untuk mempersiapkan buka dan sahur. Bahkan untuk berwudhu, kita hanya menggunakannya untuk yang wajib. Sempat tayamum dan menjamak salat juga. Karena keadaan di sana benar-benar darurat,” jelas mahasiswi yang kuliah di Sudan sejak 2019 ini.



Dia mengaku sudah hopeless dan sedikit putus asa. Para mahasiswa lantas membentuk tim relawan berjumlah 20-an orang untuk membantu sesama. Mereka mengumpulkan uang dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan Ikatan Mahasiswa Indonesia (IMI) Sudan. Mereka menghimpun donasi hingga terkumpul sekitar Rp 150 juta.

Tapi mereka kesulitan untuk membelanjakannya. Karena uang rupiah yang terkumpul kesulitan ditukar ke Pound lantaran bank tutup. Toko-toko juga sudah tutup. Hampir selama tujuh hari perang, mereka hanya makan mie instan. Bahkan, sebagian teman-temannya telah menuliskan surat wasiat.  “Kita sudah setakut itu. Ada mahasiswi yang sudah mulai mojok sambil nangis sendiri. Ibarat, sudah pada mulai kena mental,” katanya.

Evakuasi para mahasiswa asal Indonesia dilakukan pada 23 April atau di hari ke-9. Pukul 03.00 dini hari, para mahasiswa sudah bersiap. Mereka bergerak dari titik masing-masing menuju sekretariat PPI Sudan. Mereka menjalankan evakuasi senyap. Yaitu, berjalan dari rumah hingga sekretariat secara diam-diam. Karena dikhawatirkan akan ketahuan. Meskipun sudah ada jeda kemanusiaan.

“Semua negara meminta jeda kemanusiaan ke pemerintah dan dikasih. Tapi, kita harus tetap berhati-hati, karena takut ada kriminal lain yang bukan tentara. Seperti penjahat atau pencuri sejenis jambret. Kita sudah mulai bergerak pukul 02.30. Para laki-laki bergerak terlebih dahulu untuk memberi kode semisal sudah aman. Hal itu terus dilakukan sepanjang jalan sampai tiba di tempat evakuasi,” terangnya.

Rencana awal, semua langsung berangkat bersama sebanyak 13 bus. Namun, karena solar susah dan kondisi yang mencekam, beberapa bus membatalkan. Sehingga hanya enam bus yang bisa berangkat. Perjalanan dari Ibu Kota Khortum hingga Pelabuhan Port Sudan memakan waktu 17 hingga 19 jam.

Selama perjalanan mereka hanya makan mie instan dan minum air putih. Setibanya di pelabuhan, mereka menginap selama sehari dan melanjutkan perjalanan laut selama 24 jam. Mereka bersama orang-orang dari 59 negara lain dengan dikawal PBB dan kapal tentara Angkatan Laut Arab Saudi untuk jaminan keamanan.

“Kita menginap satu hari di Jeddah menggunakan visa transit. Sehari kemudian kita ke bandara bersama 300 orang lebih. Kita adalah kloter pertama yang berangkat ke Indonesia,” katanya. (din/aro) Editor : Agus AP
#top #perang sudan #sudam perang #mahasiswi sudan #mahasiswi temanggung