Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Belajar dari Internet, Pesawat Aerotex Made in Temanggung Pakai Ban Vespa

Agus AP • Jumat, 24 Maret 2023 | 16:16 WIB
Pesawat Aerotex X1 di bengkel pembuatan di Dusun Rejosari RT 3 RW 3, Desa Selopampang, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung, Kamis (23/3). (ADDIN ALFATH/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pesawat Aerotex X1 di bengkel pembuatan di Dusun Rejosari RT 3 RW 3, Desa Selopampang, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung, Kamis (23/3). (ADDIN ALFATH/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Temanggung – Sebuah pesawat ultralight berpenumpang satu orang berhasil melakukan ujicoba di hanggar FASI Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Adisutjipto Jogjakarta. Pesawat Aerotex X1 tersebut adalah karya orang Temanggung.

Pembuat utama pesawat ini ada 2 orang, dengan dibantu sejumlah orang dalam tim. Mereka menggunakan peralatan seadanya, dan sederhana. Di luar, ada yang membimbing untuk konsultasi tapi tidak turun tangan.

Perakit pesawat tersebut adalah Sudiro dan Davit Ahmad Tabib. Sudiro adalah penerbang dan pembuat pesawat aeromodelling. Davit merupakan pemuda pemilik sebuah bengkel las, sehingga berpengalaman tentang perbengkelan, teknik pengelasan, mekanik, dan permesinan.

Sudiro mnegatakan, salah satu pemicu pembuatan pesawat ini adalah adanya dukungan dari pihak landasan pacu di Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. Sehingga mereka memberanikan diri untuk merakit pesawat tersebut. Dia menyebut pesawat ini swayasa atau eksperimental. Desain pesawat ini dia pelajari dari internet, dengan memilih jenis pesawat yang sederhana. Bahan pesawat ini, 90 persennya berasal dari Indonesia. Untuk meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri.

“Misalnya alumunium. Kita memilih jenis tertentu yang sesuai spesifikasi kebutuhan. Mesin yang kita gunakan adalah mesin rotax yang biasa digunakan untuk motor. Kita desain khusus dengan berat dan output power yang sesuai untuk terbang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Kamis (23/3).



Pembuatan pesawat ini memakan biaya kurang lebih Rp 150 juta, dikerjakan selama 9 bulan. Dana berasal dari investor penggiat aerosport. Yaitu, orang yang membangun landasan di Kaloran. Dalam proses pembuatan pesawat ini, dia tidak mau mempublikasikan dulu, karena khawatir semisal sudah viral tapi tidak bisa terbang. Dia mempublikasikan pesawat rakitannya tersebut pertama kali saat ujicoba dan berhasil terbang di Jogja.

Pesawat ini bisa berfungsi untuk memantau hutan, lahan perkebunan, kelapa sawit, hutan kebakaran. Karena kecepatan pesawat ini ringan dan tergolong pelan, yaitu maksimal 50 sampai 60 kilometer per jam. Selain itu, bisa juga untuk rekreasi, sekadar untuk merasakan terbang. Sejauh ini memang belum ada orang yang serius memesan.

“Kalau ada pesanan kita bisa produksi lagi. Ada keinginan untuk terus membuat. Ke depan kalau membuat lagi mungkin waktunya lebih singkat karena sudah punya pengalaman. Kami berencana untuk membuat yang double seat, agar bisa terbang untuk belajar jadi pilot,” ungkapnya.

Dia mengaku, di antara yang mereka konsultasikan adalah ban vespa yang mereka jadikan roda pesawat. Pihak konsultan yang menentukan boleh digunakan dan tidak. Selanjutnya adalah alumunium serta jenis kain yang digunakan. Setidaknya berlangsung 11 kali uji jenis kain hingga ditetapkan.

Davit menambahkan, lebar pesawat adalah 9,5 meter, panjang depan sampai belakang 4,5 meter, bobot 175 kilogram, daya angkut dengan pilot dan bahan bakar seberat 3 kuintal dan bisa terbang mencapai ketinggian 700 kaki atau 200 meter selama 10 menit. (din/ton) Editor : Agus AP
#aeromodelling #Pesawat Aerotex X1 #pesawat ultralight