Sebenarnya dia enggan menjabat sebagai ketua karena merasa sudah tua. Namun karena jabatan ketua kosong, akhirnya dia bersedia.
Wakil-wakilnya justru masih muda, sehingga apabila mereka sudah siap, dia bersedia mundur.
“Saya di sini kan orang budist, tapi ini makco dari Mbah saya, dititipkan di sini. Jadi saya harus ikut tanggung jawab. Saya itu di sini sering bersih-bersih, ya karena memang suka. Jadi teman-teman yang lain minta agar saya saja yang menjadi ketua,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Sebelum di Temanggung, dia tinggal di Magelang dan Jakarta. Di 2 kota tersebut, biasanya beribadah di wihara. Namun, karena ini dulu punya engkongnya, maka ketika di Temanggung dia juga sembahyang di kelenteng.
Sekarang, masih beribadah di wihara dan kelenteng. Menurutnya, beribadah di kelenteng dan wihara hampir sama.
“Ajarannya semua hampir sama. Kita itu harus berbuat baik, jujur, dan hatinya bersih, itu yang penting. Kalau kita bisa menolong seseorang itu lebih baik,” ungkap perempuan bermarga Sien ini.
Tantangan menjadi ketua yayasan adalah menghadapi orang banyak. Sebab, semakin beragam orang, kian banyak tantangannya. Kuncinya harus sabar. Sebagai ketua ia harus bisa memimpin adik-adiknya.
Agar mereka bisa menyelesaikan tugas masing-masing. Dia mengerjakan hal penting atau sesuatu mendesak. Namun setiap kebijakan harus dimusyawarahkan.
Selama mengelola kelenteng, tidak mengalami kesulitan. Tidak ada yang menjadi beban baginya. Hanya mendamaikan kalau ada konflik. Baginya, kesulitan-kesulitan itu biasa saja, bisa diselesaikan dengan baik.
“Kelenteng Dharma Nugraha ini ada pendanaan. Setiap bulan ada kotak dana. Selain itu, ada iuran bulanan. Semisal acara Imlek, kelenteng mendapat dana dari masyarakat yang memasang lampion. Dana berasal dari umat Konghucu dan umat luar,” jelasnya.
Dalam mengelola kelenteng dilakukan dengan gembira. Tidak ada hal yang dilarang di kelenteng dan dilanggar oleh umat.
“Hal yang terpenting adalah jangan sampai merusak apa yang ada di lingkungan sini. Semua harus dipelihara dengan baik,” terangnya.
Untuk kegiatan toleransi dengan penganut agama lain, kelenteng mengikuti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Terkadang juga melakukan kegiatan bakti sosial dengan warga Nahdlatul Ulama (NU).
Orang-orang NU juga kadang sering datang ke kelenteng. Antusiasme kaum milenial Tionghoa dalam beribadah di kelenteng dilakukan dengan memberikan tanggung jawab untuk bermain barongsai dan samsi.
Menurutnya, dalam menjalankan ibadah, tidak ada gap. Semuanya sama-sama. Anak-anak muda juga banyak yang sering datang ke kelenteng.
Apalagi untuk bermain barongsai atau samsi. Dia akan menjabat sebagai ketua sampai tahun 2025. Aturan sebenarnya 5 tahun, namun warga kelenteng tetap memintanya menjadi ketua. (din/lis) Editor : Agus AP