Lapangan terbang ini memiliki nama Watu Layang Aerowisata. Tapi masyarakat juga mengenalnya sebagai Bandara Kaloran.
Lapangan terbang yang mulai dibangun oleh sebuah perusahaan swasta pada 2018 ini berada di Bukit Pencong. Tujuannya untuk membantu akses transportasi dari Temanggung ke daerah lain.
Tapi saat ini juga digunakan untuk kegiatan wisata atau aerosport. Pemandangan alam dari atas bukit dengan latar belakang Gunung Sumbing dan Sindoro menjadi daya tarik tersendiri.
Landasan pacu lapangan terbang Watu Layang memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar 20 meter. Landasan masih berupa tanah yang dipadatkan.
Lapangan terbang ini hanya bisa disinggahi pesawat-pesawat ringan. Salah satu komunitas olahraga dirgantara yang sering singgah di Watu Layang adalah Jogja Flying Club.
Palinah, 80, pemilik warung di sebelah lapangan terbang menceritakan, saat hari biasa memang sepi. Tak ada penerbangan di lokasi ini.
Tapi kalau akhir pekan, Sabtu dan Minggu, sering ada pesawat-pesawat ringan yang landing dan take off dari Lapangan Terbang Watu Layang.
"Kalau di hari biasa seperti ini tidak ada pesawat terbang, adanya ya orang proyek itu. Kalau mau melihat atau menaiki pesawat terbang di hari Sabtu (atau) Minggu, biasanya dari jam 9 pagi sudah ada,” jelas Palinah pada Jawa Pos Radar Semarang Rabu (11/1).
Dijelaskan lebih lanjut, masyarakat umum yang berkunjung di taman wisata Pencong juga sering mendatangi lapangan terbang saat akhir pekan. Tak hanya foto-foto dengan latar pemandangan alam, mereka juga ingin melihat berbagai macam pesawat ringan yang hilir mudik di landasan pacu.
Bahkan ada yang berwisata terbang naik pesawat microlight. “Kalau dulu, ongkos untuk menaiki pesawat Rp. 500.000, tidak tahu kalau sekarang berapa," kata Palinah.
Belum adanya pesawat yang melakukan lepas landas di hari biasa mungkin juga didasari karena pembangunan infrastruktur serta fasilitas yang belum 100%.
Palinah berharap bahwa dengan adanya bandara serta taman wisata Pencong dapat memberikan dampak positif untuk ekonomi warga sekitar. (mg11/ton) Editor : Agus AP