Kepala Desa Gondosuli Muhammad Arifin menuturkan, di batu tersebut terpahat lukisan berbentuk wayang satu kotak. Seperti Werkudoro dan tokoh-tokoh lainnya. Rencananya, di atas batu tersebut akan dibangun sebuah atap untuk melindungi lukisan wayang yang terpahat di batu. “Kalau tidak dikasih atap, pahatan wayangnya bisa hilang karena terkena air hujan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Tak diketahui secara pasti kapan batu bergambar wayang ini ada di Gondosuli. Tak ada catatan sejarah terntang ini. Namun, warga meyakini batu tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang.
Ada sebuah dongeng di desa tersebut yang menceritakan, saat Selasa dan Kamis Kliwon malam, terdengar suara gamelan. Padahal saat itu tidak ada orang yang memainkan gamelan. Mitos lainnya, di Desa Gondosuli, apabila ada orang mengundang wayang, maka ia tidak akan betah di desa ini dan akan pergi. Beberapa tahun kemudian baru berani pulang kampung. “Hal tersebut membuat warga Gondosuli tidak berani mengundang wayang dalam acara apapun di desa,” jelasnya. (din/ton) Editor : Agus AP