PAMEKASAN – Transisi industri telekomunikasi di Indonesia belum mulus.
Meski populasi base transceiver station (BTS) 3G hampir selesai dihapus, operator masih mempertahankan aset 2G.
Direktur & Chief Technology Officer XL Axiata I Gede Darmayusa mengatakan, transisi teknologi telekomunikasi memang sudah berjalan.
Baca Juga: Ada Opsi Pinjamkan Ze Valente dan Yan Victor, Direktur Operasional Persebaya Bilang Begini
Baca Juga: Begini Respons Uston Nawawi usai Persebaya Kalah 2-0 dari Barito Putera
Salah satunya, pemerataan akses sinyal 4G di berbagai daerah. Dari sekitar 150 ribu titik BTS milik perseroan, 90 ribu di antaranya sudah bisa menyebar sinyal 4G.
’’BTS 3G kita sudah tinggal sedikit. Populasinya kurang lebih seribu titik,’’ paparnya saat media update di Pamekasan, Madura, kemarin (10/11).
Namun, lanjut dia, populasi BTS terbesar setelah 4G justru 2G.
Teknologi yang sudah berusia lebih dari tiga dekade itu masih dipertahankan, terutama untuk beberapa daerah. Salah satunya, Pulau Madura.
Faktor utamanya adalah basis konsumen XL di wilayah tersebut, belum semua mengadopsi ponsel dengan teknologi 4G. Sebagian pelanggan masih menggunakan layanan konvensional seperti SMS atau telepon.
Hal tersebut terlihat dari traffic voice yang mencapai 350 kilo erlang (kerl) per hari.
’’Faktanya, handset dengan kemampuan VoLTE (Voice over Long Term Evolution) pada jaringan kami di Madura hanya 46,8 persen. Itu artinya, lebih dari 50 persen masih menggunakan layanan 2G,’’ paparnya.
Meski demikian, migrasi dari 2G juga akan terjadi. Alasan utamanya, pabrikan gawai sudah menghapus produk yang tidak menggunakan teknologi 4G.
Diprediksi, tiga tahun ke depan sebagian besar pengguna di wilayah seperti Madura atau Lombok bakal menggunakan teknologi 4G.
’’Kecepatannya memang bergantung siklus pergantian gawai di setiap daerah. Tapi, migrasi ini bakal jadi satu keniscayaan yang tak bisa dihindari,’’ imbuh Group Head XL Axiata East Region Dodik Ariyanto. (jpk)
Editor : Agus AP