RADARSEMARANG.ID, PENGEMBANGAN teknologi Polymer Solar Cells (PSCs) berbasis material cerdas Non-Fullerene Acceptor (NFA) menjadi salah satu fokus penelitian untuk menciptakan sumber energi terbarukan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Penelitian tentang material cerdas Non-Fullerene Acceptor (NFA) untuk Polymer Solar Cells (PSCs) menjadi fokus Elsan Febiyanti, lulusan Teknologi Rekayasa Kimia Industri Universitas Diponegoro.
Inovasi ini berpotensi menjadi alternatif energi terbarukan menggantikan bahan bakar fosil.
Dengan demikian, teknologi ini dapat menjadi harapan baru untuk masa depan energi dunia yang lebih berkelanjutan.
Selama bertahun-tahun, dunia mengandalkan Fullerene, bola molekul karbon yang menjadi "jantung" sel surya organik.
Namun, sebagaimana matahari tak pernah berhenti bersinar, sains pun tak pernah berhenti berevolusi.
Fullerene kini mulai tergeser oleh Non-Fullerene Acceptors---bahan baru yang menawarkan efisiensi tinggi, kestabilan luar biasa, serta fleksibilitas kimia yang memungkinkan desain sel surya yang lebih adaptif, ringan, dan transparan, ungkap Dr. Mohamad Endy Julianto Dosen Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Vokasi UNDIP.
Dalam ulasannya yang mendalam, Endy menyoroti tiga bintang utama di dunia NFA:
Rylene Diimide-Based NFAs, yang tahan panas dan punya stabilitas optik tinggi.
A--D--A (Acceptor--Donor--Acceptor) Structures, dengan kemampuan menyerap cahaya lebih luas dan efisiensi konversi daya yang menakjubkan.
DPP-Based NFAs, dengan kestabilan termal dan kemampuan membentuk struktur teratur untuk peningkatan mobilitas muatan listrik.
Dari hasil penelitian global, efisiensi sel surya berbasis NFA kini telah menembus angka 15%, membuka pintu bagi panel surya fleksibel dan transparan yang kelak bisa menempel di kaca jendela, tas, atau bahkan pakaian kita, jelas Endy.
Sementara itu, Elsan menambahkan bahwa di tengah tantangan krisis energi dan perubahan iklim, karya ilmiah ini bukan sekadar riset---tapi doa yang dirangkai dengan eksperimen, harapan yang diwujudkan lewat molekul, dan langkah kecil menuju dunia yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Cahaya masa depan tak lagi sekadar terbit di ufuk timur---ia kini lahir di laboratorium, lewat tangan-tangan muda yang menulis ulang arti energy, pungkas Elsan.
Oleh : Mohamad Endy Yulianto, Dosen Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Vokasi UNDIP.
Editor : Tasropi