RADARSEMARANG.ID, PASKA Bitcoin halving keempat, belum berdampak signifikan terhadap kenaikan harga Bitcoin saat ini. Bahkan harga bitcoin menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Berdasarkan Coingecko, pada Senin (29/4) harga BTC hanya berada di level US$ 62.600 atau hanya turun 1,41%.
Sedangkan dalam seminggu, harga Bitcoin naik tipis 0,6%, dan dalam sebulan ada koreksi sekitar 10,9%.
Jaringan Bitcoin mengalami halving keempat pada 20 April malam lalu. Implikasinya menjadi luas. Oleh karena proses ini penting untuk keseluruhan dunia mata uang kripto, dan bukan hanya bagi para pemegang Bitcoin.
Halving Bitcoin 2024, yang telah dinantikan oleh para investor kripto beberapa tahun ini, terutama setelah mencapai all time high (ATH) di tengah-tengah pandemi dan koreksi besar-besaran setelah new normal.
Perlu diketahui halving Bitcoin merupakan emotongan hadiah bagi para minner (Penambang Bitcoin).
Hadiah per blok telah dikurangi dari yang tadinya 6,25 BTC menjadi 3,215 BTC. Pemotongan berikutnya akan terjadi di tahun 2028, yang akan mengurangi hadiahnya menjadi 1,5625 BTC.
Halving ini secara sederhana diperkirakan terjadi setiap 4 tahun sekali, dan perkiraan Halving ke-64 atau terakhir akan terjadi sekitar tahun 2140, yang berarti 21 juta koin telah habis ditambang.
Artinya penerbitan Bitcoin baru di marketplace akan dihentikan. Setelah ini terjadi, para penambang harus menemukan cara lain untuk menghasilkan uang di dunia kripto.
Lalu bagaimana pengaruh Halving terhadap harga Bitcoin?
Sebagaimana diketahui, nilai tukar Bitcoin adalah sekitar USD 65.000. Banyak analis yang memperkirakan halving akan menyebabkan kenaikan harga BTC lebih lanjut dalam jangka panjang.
Secara historis, dengan setiap siklus baru yang mengikuti peristiwa halving, harga Bitcoin mencapai puncak baru.
Misalnya, di akhir tahun 2013, sekitar satu tahun setelah halving pertama, Bitcoin mencapai harga USD 1.200.
Siklus pasar berikutnya memuncak di USD 20K per Bitcoin di akhir tahun 2017, dan naik hingga USD 69K di akhir tahun 2021 sebelum jatuh lagi.
Namun, selama enam bulan terakhir ini, nilai BTC telah naik sekitar 140 persen. Sebagai perbandingan, selama periode waktu yang sama, harga Ethereum, yaitu mata uang kripto terbesar kedua, hanya meningkat sebesar 85 persen.
"Situasi saat ini unik Bitcoin, untuk pertama kalinya, melampaui puncak sebelumnya sebelum halving, mencapai USD 73.000 di bulan Maret 202," ungkap Analis Keuangan Broker OctaKar, Yong Ang dalam keterangan tertulis di Jakarta, (27/4).
Yong Ang menambahkan bahwa permintaan dari ETF bitcoin AS yang diluncurkan di bulan Januari merupakan faktor utama peningkatan harga tersebut.
Pada saat yang sama, penghasilan para penambang berkurang tepat setengah. Akibatnya, mereka perlu menghabiskan dua kali lipat waktu dan listrik untuk mendapatkan jumlah mata uang kripto yang sama.
Karena harga energi tidak murah, para pemain terlemah diperkirakan akan meninggalkan pasar. Dalam kata lain, kami memperkirakan kurangnya pasokan dengan permintaan yang meningkat.
Para pemian krypto tentu mengetahui, Halving Bitcoin adalah peristiwa penting dalam sejarah mata uang kripto major, yang menunjukkan penerbitannya yang terbatas dan mekanismenya untuk melawan inflasi.
Banyak yang meyakini bahwa Bitcoin, dengan sifat deflasinya, memiliki posisi bagus untuk menjadi penyimpanan nilai yang andal dalam perekonomian dunia yang tidak stabil, layaknya emas tradisional tetapi versi digital.
Jika kita menerapkan paralel historis, Bitcoin kemungkinan akan memasuki fase pertumbuhan intens di akhir tahun 2024, di mana harganya diperkirakan melampaui USD 200.000.
Kondisi saat ini sangat berbeda dengan yang terjadi pada tahun 2020, karena permintaan akan mata uang kripto sangatlah tinggi akibat EFT, dan defisitnya sudah terasa hari ini.
Editor : Tasropi