RADARSEMARANG.ID - Teknologi satelit internet Starlink memang tak henti-hentinya membuat dahi berkerut sekaligus berdecak kagum.
Terbaru, santer terdengar kabar 'heboh' soal kemampuan Starlink yang konon bisa 'Langsung Nyambung HP. Bahkan tanpa perlu perangkat parabola segede piring lagi.
Cukup dengan ponsel di tangan, koneksi langsung tersambung ke satelit di angkasa. Ide ini jelas 'gila' tapi menjanjikan.
Di banyak negara, Starlink tampak serius mengembangkan layanan bernama "Direct to Cell". Layanan ini memungkinkan satelitnya berkomunikasi langsung dengan ponsel standar (kebanyakan ponsel 4G/LTE biasa).
Layanan tersebut diklaim sebagai solusi penolong sinyal ponsel saat 'blank spot' total. Maksudnya, Starlink 'Direct to Cell' bertujuan menghadirkan sinyal darurat untuk ponsel saat berada di area terpencil, tengah laut, atau ketika menara seluler tumbang akibat bencana.
Untuk merealisasikan target ini, Starlink bahkan sudah berkolaborasi dengan operator seluler di berbagai negara.
Tapi, tunggu dulu. Saat kita melirik ke Indonesia, kok 'Langsung Nyambung HP' ala Starlink ini adem ayem saja?
Sepertinya belum ada pengumuman heboh soal kapan bisa dinikmati di sini. Usut punya usut, ternyata ada 'drama' besar yang menghadang di balik layar regulasi.
Drama besar itu terkait perizinan Starlink di Indonesia saat ini. Berdasarkan catatan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Starlink adalah sebagai penyelenggara Jaringan Tetap Tertutup (VSAT) dan penyelenggara jasa internet (ISP).
Jadi, operasional ini mewajibkan penggunaan perangkat stasiun bumi (yang kita kenal sebagai parabola Starlink) di sisi pengguna.
Sementara itu, layanan 'Direct to Cell' beroperasi dengan cara yang sangat berbeda. Ia harus bisa 'berbicara' alias terkoneksi langsung dengan ponsel standar menggunakan spektrum frekuensi seluler.
Faktanya, ranah konektivitas tersebut saat ini masih dikuasai oleh operator seluler domestik kita. Sebut saja seperti operator “Merah”, “Kuning”, “Ungu”, dan lainnya.
Menurut catatan media saat melaporkan masuknya Starlink ke Indonesia, pemerintah menekankan pentingnya kepatuhan pada regulasi yang ada, untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat bagi semua pemain.
Nah, 'Direct to Cell' ini kemungkinan dianggap sebagai 'ancaman' atau setidaknya pesaing baru bagi operator seluler jika beroperasi tanpa kerangka perizinan dan aturan yang setara.
Inilah 'drama' yang bikin 'nyangkut'. Starlink punya teknologi, tapi 'terganjal' oleh jenis perizinan yang berbeda.
Selain itu, mereka harus beradaptasi dengan ekosistem regulasi serta peta bisnis yang sudah ada di Indonesia.
Belum lagi soal bagaimana teknologi ini akan diatur terkait penggunaan berbagai spektrum frekuensi yang vital tadi.
Jadi, Starlink 'Langsung Nyambung HP' memang jadi kenyataan di negara lain lewat kolaborasi operator seluler. Namun, di Indonesia mimpi ini masih menanti babak regulasi lanjutan. Sabar dulu, ya.
Editor : Baskoro Septiadi