RADARSEMARANG.ID, Semarang — Tiktok adalah aplikasi video pendek yang diluncurkan oleh perusahaan China, ByteDance, pada 2016.
Tiktok memiliki kembaran di China, juga buatan ByteDance, yakni Douyin.
Pendiri ByteDance, Zhang Yiming, kini adalah orang terkaya di China.
Begitu diluncurkan secara global, Tiktok melejit menuju kepopuleran.
Di AS saja, jumlah penggunanya ada 170 juta orang.
Selain sebagai wadah mengkespresikan diri, aplikasi ini juga sangat membantu berbagai usaha mikro, kecil, dan menengah sehingga dinilai masyarakat memberi sumbangsih terhadap kesejahteraan mereka.
Pada 2020, muncul persoalan dengan berlakukan undang-undang data perusahaan di China.
Beijing memerintahkan, semua perusahaan yang beroperasi di China, baik perusahaan nasional, daerah, maupun internasional, harus meneruskan semua data mereka ke Pemerintah China dengan alasan keamanan.
Berbagai perusahaan internasional menolak karena Beijing tidak mengeluarkan keterangan untuk apa data itu akan mereka gunakan.
Juga tidak ada jaminan dari Beijing bahwa data itu akan disimpan secara aman.
Walhasil, per 2021, sejumlah perusahaan asing, termasuk LinkedIn dan Yahoo, memilih angkat kaki dari China.
Pada 2022, situs Buzzfeed News menerbitkan berita yang mengatakan bahwa Tiktok memang memata-matai penggunanya melalui algoritma khusus.
Padahal, pada 2021, Tiktok mengeluarkan pernyataan resmi kepada Pemerintah AS mengenai komitmen perlindungan data pribadi.
Laporan Buzzfeed News diperoleh melalui orang dalam Tiktok yang membocorkan rekaman sejumlah rapat para petinggi dan staf.
Dikatakan bahwa kantor pusat Tiktok di China bersama ByteDance memang mengakses data para pengguna di AS.
Kecurigaannya, data itu berakhir di tangan intelijen China.
Tidak lama kemudian, beberapa wartawan dari tim Buzzfees News yang menulis soal Tiktok pindah kerja.
Ada yang ke majalah Forbes dan ada yang ke Financial Times.
Mereka kemudian memperoleh bocoran bahwa Tiktok dan ByteDance melacak melalui aplikasi yang ada di gawai.
Forbes kemudian melakukan penyelidikan internal yang menemukan bahwa dua wartawan mereka memang dimata-matai oleh ByteDance dan Tiktok.
Salah satu bentuk mata-mata itu ialah Tiktok melacak keberadaan fisik para wartawan.
Alasannya untuk melihat, apakah mereka berada di tempat yang sama dengan karyawan Tiktok ataupun ByteDance.
Jika wartawan dan karyawan Tiktok ada di tempat yang sama, Tiktok mencurigai bahwa karyawan itu membocorkan rahasia perusahaan.
Hasil penyelidikan diterbitkan di edisi Desember 2022.
TikTok resmi diblokir di Amerika Serikat (AS) mulai hari ini, Minggu (19/1) waktu setempat.
Hal tersebut sesuai dengan aturan yang diteken Presiden AS Joe Biden, yang meminta TikTok lepas dari induk ByteDance asal China atau diblokir secara nasional.
Di tengah nasib TikTok yang menjadi ‘gelap’ di AS, Perplexity AI dilaporkan telah mengajukan tawaran ke ByteDance untuk membuat entitas baru yang menggabungkan Perplexity, TikTok AS, dan mitra pemodal baru.
Struktur baru ini akan memungkinkan sebagian besar investor ByteDance yang ada untuk mempertahankan saham ekuitas mereka dan akan membawa lebih banyak video ke Perplexity, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sifat rahasia dari potensi kesepakatan tersebut.
Sebagai informasi, Perplexity AI merupakan mesin pencari berbasis kecerdasan buatan yang bersaing dengan OpenAI dan Google.
Layanan ini didirikan pada 2024 lalu dengan penilaian sekitar $500 juta dan mengakhiri tahun dengan penilaian sekitar $9 miliar, setelah menarik minat investor yang meningkat di tengah booming AI generatif.
Penelusuran yang dibantu AI dipandang oleh para investor sebagai salah satu risiko utama Google, karena berpotensi mengubah cara konsumen mengakses informasi secara online.
Tahun lalu, OpenAI, yang memulai kegilaan AI generatif pada akhir tahun 2022 dengan ChatGPT, memperkenalkan mesin pencari yang disebut SearchGPT.
Google kemudian meluncurkan “Overview AI” dalam penelusuran, memungkinkan pengguna melihat ringkasan jawaban singkat di bagian atas hasil.
Belum jelas apakah TikTok akan bersedia membentuk entitas gabungan bersama Perplexity AI di AS.
Di saat bersamaan, Presiden AS terpilih Donald Trump juga mengatakan niatnya untuk memberikan waktu 90 hari ke TikTok dalam membenahi operasionalnya di AS.
Namun, keputusan Trump itu baru bisa efektif setelah resmi dilantik sebagai Presiden AS pada Senin (20/1) waktu setempat.
Kita tunggu saja bagaimana nasib TikTok di AS selanjutnya/
Laman media The Information melaporkan, para pengambil kebijakan pada Oracle, pengelola komputasi awan untuk operasional data Tiktok di AS, telah memerintahkan para staf mereka untuk segera mempersiapkan penutupan peladen (server) data Tiktok di AS mulai Sabtu pukul 21.00 waktu setempat atau Minggu pukul 09.00 WIB.
”Undang-undang memaksa kami menghentikan sementara layanan kami. Kami terus bekerja untuk memulihkan kembali layanan kami di AS secepatnya,” demikian pemberitahuan Tiktok kepada para penggunanya di AS.
Trump, menurut rencana, dilantik sebagai presiden AS periode 2025-2029 pada Senin (20/1).
Kalaupun dia memutuskan memberi penambahan waktu kepada Tiktok, tidak mengubah fakta bahwa per Minggu (19/1) waktu AS Tiktok akan mati dan hilang dari semua pelantar pengunduhan di AS.
Nasib Tiktok di ujung tanduk karena Mahkamah Agung AS menolak campur tangan menyelamatkan aplikasi buatan perusahaan ByteDance ini.
Kantor Presiden AS Joe Biden kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa eksekusi penghapusan Tiktok akan dilakukan oleh pemerintahan Trump.
Harapan terakhir Tiktok dan penggunanya bertumpu kepada presiden terpilih Donald Trump.
Harapan ini muncul ketika Sabtu (18/1) waktu setempat atau Minggu (19/1) waktu Indonesia.
”Saya mungkin akan memberi Tiktok perpanjangan waktu 90 hari.
Kita lihat saja nanti. Mungkin saya mengumumkannya pascapelantikan,” ujar Trump.
Jika Tiktok harus mati suri di AS, selama satu bulan saja, mereka akan menderita kerugian besar.
Berdasarkan berkas yang diajukan Tiktok ke pengadilan saat menggugat balik Pemerintah AS, sebanyak 29 persen pendapatan melalui iklan akan lenyap.
Di AS, perusahaan ini memiliki 7.000 karyawan.
Berbagai firma kajian ekonomi dan digital menjelaskan, pengguna Tiktok di seluruh dunia mencapai 1 miliar orang.
Indonesia dan Brasil adalah pengguna terbesar.
Di India, Tiktok dilarang karena alasan politik terkait konflik India dan China berebut daerah perbatasan.
Namun, dari semua pengguna, di AS adalah yang terpenting bagi Tiktok.
Di Tiktok AS, iklan beredar dan berbagai konten para pemengaruh (influencer) yang disponsori banyak pihak begitu besar.
Dari total pendapatan global Tiktok sebesar 26 miliar dollar AS pada 2024, sebanyak 10 miliar dollar AS dari cabang AS. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi