RADARSEMARANG—Hotel Khas Kota Tegal menjadi saksi hangatnya temu rindu alumnus SMP 3 Tegal angkatan 1987, Selasa (24/3/2026).
Bertempat di ballroom hotel tersebut, kegiatan halalbihalal berlangsung gayeng—penuh canda, tawa, sekaligus haru yang mengalir pelan di antara kenangan lama yang kembali dipanggil.
Di sela suasana akrab itu, para alumnus juga menggelar pemilihan pengurus baru. Estafet kepemimpinan berpindah dari Jamali kepada Agus Wind. Pergantian ini bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan simbol berlanjutnya ikatan yang tak lekang oleh waktu.
Inisiator kegiatan, Siti Zahro—yang akrab disapa Jao—menyampaikan bahwa halalbihalal ini menjadi ruang untuk kembali merajut kebersamaan para alumnus yang kini tersebar di berbagai kota.
“Siapa tahu dari sini, dari obrolan ringan, lahir ide-ide baru, termasuk pengembangan bisnis. Kita ambil sisi positifnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sri Juliana, atau yang intim disapa Yuli. Alumnus yang berdomisili di Tegal itu mengapresiasi kontribusi rekan-rekannya, khususnya dari wilayah Jakarta, yang turut mendorong terselenggaranya acara tersebut. Baginya, pertemuan ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi jembatan yang menghubungkan kembali rasa memiliki.
Ketua alumni sebelumnya, Jamali, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh alumnus.
Dengan suara yang sedikit tertahan, ia juga memimpin doa untuk rekan-rekan yang telah berpulang dan mereka yang tengah berjuang melawan sakit.
Dari catatannya, sekitar 15 alumnus telah lebih dulu meninggalkan dunia—menyisakan kenangan yang tetap hidup di hati kawan-kawan seperjalanan.
Sementara itu, Sugiono selaku pembina alumni yang juga anggota DPRD Kota Tegal, berharap kegiatan serupa dapat digelar lebih intens. Harapan itu diamini oleh H. Darmawi, perwakilan pengurus wilayah Jakarta, serta Warsito dari Tegal.
Mereka sepakat, silaturahmi adalah energi yang menjaga persaudaraan tetap menyala.
Suasana semakin cair saat rangkaian games digelar. Gelak tawa pecah, seolah menghapus jarak puluhan tahun yang sempat memisahkan.
Sebelum itu, panitia menyuguhkan hidangan khas Tegal—petis, tahu aci, dan aneka sajian sederhana yang justru menghadirkan rasa pulang.
Alis, alumnus yang datang dari Surabaya, tampak larut menikmati tahu aci. Baginya, rasa itu bukan sekadar makanan, melainkan potongan masa lalu yang kembali hadir di lidah dan ingatan.
Di penghujung acara, para alumnus saling bersalaman, saling memaafkan. Di antara genggaman tangan yang erat, ada doa-doa yang tak terucap—tentang umur yang berkah, kesehatan yang dijaga, dan persahabatan yang terus hidup, melampaui waktu. (Isk)
Editor : Tasropi